Archive for Januari, 2010

bocrypt

Januari 29, 2010
SARGASSUM OSCILLATORIA AGARICUS PAKU KAWAT
DIVISIO : Phaeophyta DIVISIO : Cyanophyta DIVISIO : Basidiomycetae DIVISIO : Lepidophyta
CLASSIS : Cyclosporeae CLASSIS : Cyanophyceae CLASSIS : Homo basidiomycetae CLASSIS : Lycopodinae
ORDO : Fucales ORDO : Oscillatoriales ORDO : Agaricales ORDO : Lycopodinales
FAMILIA : Sargassaceae FAMILIA : Oscillatoriaceae FAMILIA : Agariceae FAMILIA : Lycopodiaceae
GENUS : Sargassum GENUS : Oscillatoria GENUS : Agaricus GENUS : Lycopodium
SPECIES : SPECIES : SPECIES : Agaricus bisparus SPECIES : Lycopodium cernum
TURBINARIA CORALINA POLYTRICHUM PAKU RANE
DIVISIO : Phaeophyta DIVISIO : Rhodophyta DIVISIO : Brycophyta DIVISIO : Lepidophyta
CLASSIS : Cyclosporeae CLASSIS : Rhodophyceae CLASSIS : Musci CLASSIS : Lycopodinae
ORDO : Fucales ORDO : Cryptomeales ORDO : Polytrichales ORDO : Selaginellales
FAMILIA : Sargassaceae FAMILIA : Coralina FAMILIA : Polytrichaceae FAMILIA : Selaginellaceae
GENUS : Turbinaria GENUS : Coralina GENUS : Polytrichum GENUS : Selaginella
SPECIES : SPECIES : Coralina Sp SPECIES : Polytichum commune SPECIES : Selaginella sp
GELIDIUM ULOTRIX CAMPHYLOPUS PAKU EKOR KUDA
DIVISIO : Rhodophyta DIVISIO : Clorophyta DIVISIO : Brycophyta DIVISIO : Calamophyta
CLASSIS : Rhodophyceae CLASSIS : Clorophyceae CLASSIS : Musci CLASSIS : Equisetinae
ORDO : Gelidiales ORDO : Ulotricales ORDO : Camphylopusles ORDO : Equisetales
FAMILIA : Gelidiaceae FAMILIA : Ulotrichaceae FAMILIA : Camphylopusceae FAMILIA : Equisetaceae
GENUS : Gelidium GENUS : Ulotrix GENUS : Camphylopus GENUS : Equisetum
SPECIES : SPECIES : Ulotrix zonada SPECIES : Camphylopus sp SPECIES : Equsetum debile
GRACILARIA RHIZOPUS MARCHANTIA CAULERPA
DIVISIO : Rhodophyta DIVISIO : Eumycophyta DIVISIO : Bryophyta DIVISIO : Chlorophyta
CLASSIS : Rhodophyceae CLASSIS : Phycomycetae CLASSIS : Hepaticae CLASSIS : Chlorophyceae
ORDO : Nemastoales ORDO : Mucorales ORDO : Marchantiales ORDO : Siphonales
FAMILIA : Sphaerococcaceae FAMILIA : Mucoraceae FAMILIA : Marchantiaceae FAMILIA : Caulerpaceae
GENUS : Gracilaria GENUS : Rhizopus GENUS : Marchantia GENUS : Caulerpa
SPECIES : SPECIES : Rhizopus sp SPECIES : Marchantia polymorpha SPECIES :
Bossea SACCHAROMYCES PAKU PISITAN PLEUROTUS
DIVISIO : Rhodophyta DIVISIO : Eumycophyta DIVISIO : Pterophyta DIVISIO : Eumycophyta
CLASSIS : Rhodophyceae CLASSIS : Ascomycetae CLASSIS : Filicinae CLASSIS : Basiodiomycetae
ORDO : Cryptonemiales ORDO : Endomycetales ORDO : Filicales ORDO : Agaricales
FAMILIA : Corallinaceae FAMILIA : Saccharomyceae FAMILIA : Polypodiaceae FAMILIA : Agaricaseae
GENUS : Bossea GENUS : Saccharomyces GENUS : Drymoglossum GENUS : Pleurotus
SPECIES : SPECIES : Saccharomyces cerevisiae SPECIES : Drymoglossum piloselloides SPECIES : Pleurotus florida
SPIROGYRA NEUROSPORA PAKU SARANG BURUNG KAYAMBANG
DIVISIO : Chlorophyta DIVISIO : Eumycophyta DIVISIO : Pterophyta DIVISIO : Pterophyta
CLASSIS : Chlorophyceae CLASSIS : Ascomycetae CLASSIS : Filicinae CLASSIS : Filicinae
ORDO : Zygnematales ORDO : Spaeriales ORDO : Filicales ORDO : Salviniales
FAMILIA : Zygnemataceae FAMILIA : Sordariaceae FAMILIA : Polypodiaceae FAMILIA : Salviniaceae
GENUS : Spirogyra GENUS : Neurospra GENUS : Asplenium GENUS : Salvinia
SPECIES : SPECIES : Neurospora sitophila SPECIES : Asplenium nidus SPECIES : Salvinia natans
ULVA VOLVARIELLA TANDUK RUSA
DIVISIO : Chlorophyta DIVISIO : Eumycophyta DIVISIO : Pterophyta
CLASSIS : Chlorophyceae CLASSIS : Basidiomycetae CLASSIS : Filicinae
ORDO : Ulvales ORDO : Agaricales ORDO : Filicales
FAMILIA : Ulvaceae FAMILIA : Volvariaceae FAMILIA : Polypodiaceae
GENUS : Ulva GENUS : Volvariella GENUS : Platycerium
SPECIES : SPECIES : Volvariella volvaceae SPECIES : Platycerium bifurcatum
HALIMEDA AURICULARIA SEMANGGI
DIVISIO : Chlorophyta DIVISIO : Eumycophyta DIVISIO : Pterophyta
CLASSIS : Chlorophyceae CLASSIS : Basidiomycetae CLASSIS : Filicinae
ORDO : Siphonales ORDO : Auriculariales ORDO : Marsileales
FAMILIA : Codiaceae FAMILIA : Auriculariaceae FAMILIA : Marsileaceae
GENUS : Halimeda GENUS : Auricularia GENUS : Marsilea
SPECIES : SPECIES : Auricularia polytrica SPECIES : Marsilea crenata

MIKROBIOLOGI

Januari 29, 2010

MEDIA

Media merupakan tempat untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan mikroba. Media yang digunakan harus steril artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan.

Bahan penyusun media alami (toge, kentang, daging, telur, wortel), buatan (senyawa kimia, organic maupun anorganik).

Sarat tumbuh kembang dalam media :

  • Pada media harus terkandung semua unsur hara
  • Harus mempunyai tekanan osmosis  (hipertonis dan hipotonis), tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroba.
  • Harus dalam keadaan steril medianya
  • Bentuk
  1. Media padat, apabaila ditambahkan antara 12-15 gr tepung agar-agar per 1.000 ml media.

Umumnya digunakan untuk bakteri, ragi, jamur dan kadang-kadang digunakan untuk microalgae.

  1. Media cair, apabila ditambahkan zat pemadat pada media

Umumnya digunakan untuk microalgae, bakteri dan ragi.

  1. Media semi padat dan semi cair, Apabila penambahan zat pemadat hanya 50% atau kurang dari seharusnya.

Umumnya diperlukan untuk pertumbuhan mikroba yang banyak memerlukan kandungan airdan hidup anaerobik atau fakultatif (kadang ada oksigen atau tidak, bias hidup secara langsung).

  • Sususnan/Komposisi
  1. Kandungan air
  2. Kandungan nitrogen
  3. Kandungan sumber energi
  4. Faktor pertumbuhan, umumnya vitamin atau asam amino

Susunan media dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Media alami

Media yang disusun oleh bahan-bahan alami seperti kentang, tepung, daging, ikan, umbi-umbian dan sebagainya. Pada saat sekarang media alami adalah dalam bentuk kultur jaringan dan hewan. (diambil secara genetis dan disimpan pada media)

  1. Media sintesis

Media yang disusun oleh senyawa kimia. Seperti pada bakteri Clostridium, tersusun dari K2HPO4, KH2PO4, NaCl, CaCO3, dll

  1. Media semi sintesis

Terususn dari bahan alami dan sintesis, misal:

  1. Kaldu nutrisi, dalam pertumbuhan bakteri, bahan yang digunakan pepton, ekstrak daging, NaCl, aquades.
  2. Toge agar, untuk pertumbuhan jamur/ragi. Bahan yang digunakan toge, sukrosa, aquades, agar-agar.
  3. Wortel agar, untuk pertumbuhan ragi dan beberapa jamur. Bahan CaSO4 agar-agar dan aquades
  • Sifat

Dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu:

  1. Media umum

Digunakan dalam pertumbuhan dan perkembangbiakan lebih dari satu atau lebih mikroba. Misal kaldu nutrisi untuk bakteri, agar kentang dan sebagainya.

  1. Media pengaya

Apabila media digunakan untuk memberikan kesempatan terhadap satu jenis/kelompok mikroba untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat dari jenis atau kelompok lainnya yang sama berbeda di dalam satu bahan.

  1. Media selektif

Media yang hanya dapat ditumbuhi

  1. Media diferensial
  2. Media penguji
  3. Media perhitungan

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

A. PERTUMBUHAN
Pertumbuhan suatu jasad renik, dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pertumbuhan dari segi sel sebagai individu dan pertumbuhan dari segi kelompok sebagai satu populasi. Pertumbuhan sel diartikan sebagai adanya penambahan volume sel serta bagian-bagian sel lainnya, yang diartikan juga penambahan kuantitas isi atau kandungan di dalam selnya. Sedangkan pertumbuhan populasimenjadi dua dari dua menjadi tempat, dari empat menjadi delapan, dan seterusnya hingga jutaan jumlahnya.
Pada pertumbuhan populasi bakteri misalnya, adalah penggambaran jumlah atau massa sel yang terjadi pada saat tertentu. Kadang-kadang didapatkan bahwa konsentrasi sel sesuai dengan jumlah sel per unit volume.
Penambahan dan pertumbuhan jumlah sel mikroba pada umumnya dapat digambarkan dalam bentuk kurve pertumbuhan. Kurve tersebut merupakan penjabaran dari penambahan jumlah sel dalam waktu tertentu.

Kurve Pertumbuhan
Kurve pertumbuhan jasad hidup, khususnya bmikroba, merupakan gambaran dari fase pertumbuhan secara bertahap sejak awal hingga berhenti mengadakan aktivitas. Kurve ini umumnya terbagi ke dalam beberapa fase pertumbuhan, yaitu:
1. Fase lag
Pada fase ini perubahan bentuk dan pertumbuhan jumlah individu tidak secara nyata terlihat, karena fase ini dapat juga dinamakan sebagai fase adaptasi (penyesuaian) ataupun fase pengaturan jasad untuk aktivitas di dalam lingkungan kemungkinan baru. Maka grafik selama fase ini umumnya mendatar.
2. Fase eksponensial atau logarimik
Setelah setiap individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama fase lag, maka mulailah mengadakan perubahan bentuk dan meningkatkan jumlah individu (sel) sehingga kurve meningkat menanjak dengan banyak factor, antara lain:
a) Factor biologis, yaitu bentuk dan sifat jasad terhadap lingkungan yang ada, serta asosiasi kehidupan di antara jasad yang ada kalau jumlah jenis lebih dari sebuah.
b) Factor nonbiologis, antara lain kandungan sumber nutien di dalam media, temperature, kadar oksigen, cahaya dan sebagainya.
3. Fase pengurangan pertumbuhan
Beberapa keadaan puncak dari fase stasioner, dimana penambahan jumlah individu mulai berkurang atau menurun yang disebabkan oleh banyak factor, antara lain kurangnya sumber di dalam media, tercapainya jumlah kejenuhan pertumbuhan jasad, dan sebagainnya.
4. Fase stasioner
Pengurangan sumber nutrien serta factor-faktor yang terkandung di dalam jasadnya sendiri. Maka sampailah puncak aktivitas pertumbuhan kepada titik yang tidak bisa dilampaui lagi. Maka pada fase ini, gambar grafik akan mendatar. Populasi jasad hidup di dalam keadaan yang maksimal stasioner yang konstan disebut dalam konsentrasi.
5. Fase kematian
Fase ini merupakan fase akhir dari suatu kurve dimana jumlah individu secara tajam akan menurun sehingga grafiknya seperti kembali ke titik awal lagi.FAKTOR LINGKUNGAN
Untuk pertumbuhan jasad hidup, termasuk di dalamnya mikroba. Terdapar beberapa factor lingkungan yang akan berpengaruh. Maka dengan adanya factor lingkungan tersebut akan memeberikan jumlah peningkatan sel atau populasi keseluruhan yang berada dan akhirnya mempengaruhi gambaran kurve pertumbuhan yang berlainan pula.
Factor lingkungan yang berpengaruh adalah :
a) Factor biotic termasuk di dalamnya :
(1) Bentuk jasad
(2) Sifat jasad, terutama di dalam kehidupannya, apakah toleran terhadap suatu pertumbuhan yang tiba-tiba ada atau timbul, atau tidak, baik yang datang dari lingkungannya yang bersifat hidup (sesame mikroba) ataupun bukan.
(3) Kemampuan jasad untuk menyesuaikan diri dan tumbuh berkembang.
b) Factor abiotik termasuk di dalamnya :
(1) Susunan dan jumlah senyawa di dalam media, yang akibat adanya pertumbuhan akan berkurang.
(2) Factor-faktor luar yang menyertainya, seperti temperature, cahaya, kelembapan, dan sebagainya.
(3) Kehadiran senyawa yang mungkin dapat bersifat toksik atau meracun terhadap jasad tersebut, baik yang dating dari luar ataupun diakibatkan oleh aktivitas jasad menyebabkan perubahan pH, C/N-rasio dan C/N/P-rasio media lainnya.

B. PERKEMBANGAN
Perkembangbiakan mikroba dapat terjadi secara:
1. Aseksual
a. Pembelahan biner, yaitu satu sel induk membelah menjadi dua sel anak.
Misalnya terjadi pada bakteri. Pada masiing-masing sel anak akan membentuk dua sel anak lagi, dan seterusnya hingga makin banyak. Selama sel membelah maka akan terjadi keselarasan replikasi DNA sehingga tiap-tiap sel anak akan menerima paling sedikit satu kopi (salinan) darigenom. Perbanyakan sel dengan cara membelah ini. Kecepatannya ditentukan oleh waktu generasi. Ada jenis yang mempunyai waktu generasi singkat atau cepat, ada pula yang mempunyai waktu generasi lambat atau lambat sekali.
b. Multiple fission
c. Perkuncupan, misalnya pada jamur roti (saccharomyces cereviceae). Kuncup akan membesar sebesar induknya, kemudian tumbuh kuncup baru dan seterusnya sehingga akhirnya membentuk semacam mata rantai. Tetapi virus yang harus tumbuh dan berkembang biak di dalam sel hidup jasad lain, perbanyakan individunya terjadi secara pembelahan atau replikasi DNA.
d. Fragmentasi
Secara fragmentasi atau perpotongan serat/hifa atau filament, misalnya terjadi pada jamur atau mikroalga. Filamen yang terpotong menjadi beberapa bagian, tiap potongannya akan tumbuh dan berkembang pula seperti induknya.
e. Spora
Spora pada umumnya terjadi pada tumbuhan tinggi, akan tetapi dihasilkan pula oleh mikroba dalam berbagai bentuk. Untuk bacteria, spora terbentuk di dalam sel, sehingga dinamakan endospora. Sedangkan untuk jamur spora terbentuk di luar tubuh jasadnya, sehingga dinamakan eksospora. Kalau spora jatuh ke tempat yang lembab atau berair maka ia akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu baru.
2. Seksual
Perkembangbiakan secara seksual. Pada umumnya terjadi pada jamur dan mikroalga serta secara terbatas pada bacteria. Perkembangbiakan seksual pada mikroba dapat terjadi secara;
a. Oogami, apabila sel betina berbentuk telur
b. Anisogami, apabila sel betina lebih besar dari sel jantan
c. Isogami, apabila sel jantan dan sel betina mempunyai bentuk yang sama.

Fase-fase pada siklus hidup akan Nampak selama siklus hidupnya tergantung kepada factor, khususnya factor lingkungan abiotik seperti :
1) Kelengkapan unsure yang terdapat di dalam media
2) pH media
3) kadar air media
4) temperature
5) cahaya
6) sirkulasi oksigen
7) kelembaban

TAKSONOMI

Merupakan cara pengelompokan jasad hidup di dalam kelompok atau takson yang sesuai. Pada awalnya pengelommpokan hanya berlaku untuk tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dunia tumbuh-tumbuhan digolongkan ke dalam 3 golonngan yaitu :
1. Dicotyledoneae, tumbuhan yang mempunyai keeping dua
2. Monocotyledoneae, tumbuhan yang mempunyai keping satu atau tunggal. Contoh : mikroba
3. Acotyledoneae/cryptogamae, tumbuhan tanpa keeping biji
a) Prokaryota, kelompok besar jasad yang tidak mempunyai inti yang jelasseperti bakteri dan alga biru, hijau.
b) Karyota, kelompok besar jasad yang sudah mempunyai inti yang jelas, seperti alga, jamur, paku-pakuan, lumut dan sebagainya.

KELOMPOK JASAD
Kelompok jasad yang termasuk mikroba pada pembahasan ini adalah sebagai berikut :
1. Kelompok besar prokariyota
a) Bacteria
Umumnya uniseluler, tidak mempunyai khlorofil, berkembang biak dengan pembelahan biner, hidup secara cosmopolitan di udara, di tanah, di dalam air, pada bahan makanan, pada tubuh manusia, hewan maupun tumbuhan.
CONTOH JENIS BAKTERI
Kelompok/Contoh Jenis Keterangan
Menguntungkan
Methanomonas methanica
Proses pembentukan gas bio
Nitrobacter winogradsky Penambahan N2 udara
Thiobacillus denitrificans Proses denitrifikasi
Azotobacter vinelandii Penambat N2 di udara
Rhizobium japanicum Penambat N2 di udara
Lactobacillus bulgaricus Proses pembuatan yogurt
Sterptomyces griseus Proses pembuatan antibiotic
Nitrosomonas europaea Proses nitrifikasi
Merugikan
Pseudomonas cocovenans
Penghasil asam bongkrek
Vibrio cholera Penyebab penyakit kolera
Esherchia coli Pencemar
Salmonella typhi Penyebab penyakit tifus
Shigella shigae Penyebab penyakit disentri
Treponema palladium Penyebab penyakit sifilis
Clostridium botulinum Penyakit racun
Mycobacterium tuberculosis Penyebab penyakit TBC

ISBD

Januari 26, 2010

Ilmu Sosial Budaya Dasar

I. Pendahuluan
ISBD bukanlah suatu disiplin ilmu tersendiri, melainkan lebih merupakan kajian yang interdisipliner. Mata kuliah ini merupakan sumber nilai dan pedoman bagi penye1enggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadian, kepekaan sosial, kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan tentang pelestarian, pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan mempunyai wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni.
ISBD memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala sosial budaya. Standar kompetensi yang ingin dicapai adalah agar mahasiswa dapat menjadi ilmuwan dan profeosional yang berpikir kritis, kreatif, sistemik dan ilmiah, berwawasan luas, etis, memiliki kepekaan dan empati sosial, bersikap demokratis, berkeadaban serta dapat ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah sosial dan budaya secara arif.
ISBD diharapkan dapat membekali kepada mahasiswa dalam menghadapi tantangan sosial budaya di lingkungan sekitarnya dan dalam memberi kontribusi bagi pemecahan masalah-masalah sosial budaya.

II. Manusia Sebagai Makhluk Budaya
Manusia adalah mahluk berbudaya. Berbudaya merupakan kelebihan manusia dibanding mahluk lain. Dengan berbudaya, manusia dapat memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan hidupnya. Manusia menggunakan akal dan budinya dalam berbudaya. Kebudayaan merupakan perangkat yang ampuh dalam sejarah kehidupan manusia yang dapat berkembang dan dikembangkan melalui sikap-sikap budaya yang mampu mendukungnya.
Banyak pengertian tentang budaya atau kebudayaan. Kroeber dan Kluckholn (1952) menginventarisasi lebih dari 160 definisi tentang kebudayaan, namun pada dasarnya tidak terdapat perbedaan yang bersifat prinsip.
Konsep kebudayaan membantu dalam membandingkan berbagai mahluk hidup. Isu yang sangat penting adalah kemampuan belajar. Lebah melakukan aktifitasnya hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun dalam bentuk yang sama. Setiap jenis lebah mempunyai pekerjaan yang khusus dan melakukan kegiatannya secara kontinyu tanpa memperdulikan perubahan lingkungan disekitarnya. Lebah pekerja terus sibuk mengumpulkan madu untuk koloninya. Tingkah laku ini sudah terprogram dalam gen mereka yang berubah secara sangat lambat dalam mengikuti perubahan lingkungan di sekitarnya. Perubahan tingkah laku lebah akhirnya harus menunggu perubahan dalam gen. Hasilnya adalah tingkah-laku lebah menjadi tidak fleksibel.

Berbeda dengan binatang, tingkah laku manusia sangat fleksibel. Hal ini terjadi karena kemampuan dari manusia untuk belajar dan beradaptasi dengan apa yang telah dipelajarinya. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya.

Kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Manusia berbeda dengan binatang, bukan saja dalam banyaknya kebutuhan, namun juga dalam cara memenuhi kebutuhan tersebut. Kebudayaanlah yang memberikan garis pemisah antara manusia dan binatang.
Ketidakmampuan manusia untuk bertindak instingtif diimbangi oleh kemampuan lain yakni kemampuan untuk belajar, berkomunikasi dan menguasai objek-objek yang bersifat fisik. Kemampuan untuk belajar dimungkinkan oleh berkembangnya inteligensi dan cara berfikir simbolik. Terlebih lagi manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, dengan pikiran, kemauan dan hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberi penilaian terhadap obyek dan kejadian.

Manusia adalah mahluk yang berbudaya. Berbudaya merupakan ciri khas kehidupan manusia yang membedakannya dari mahluk lain. Manusia dilahirkan dalam suatu budaya tertentu yang mempengaruhi kepribadiannya. Pada umumnya manusia sangat peka terhadap budaya yang mendasari sikap dan perilakunya.

Kebudayaan merupakan induk dari berbagai macam pranata yang dimiliki manusia dalam hidup bermasyarakat. Etika merupakan bagian dari kompleksitas unsur-unsur kebudayaan. Ukuran etis dan tidak etis merupakan bagian dari unsur-unsur kebudayaan. Manusia membutuhkan kebudayaan, yang didalamnya terdapat unsur etika, untuk bisa menjaga kelangsungan hidup. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang menjaga tata aturan hidup.

Etika dapat diciptakan, tetapi masyarakat yang beretika dan berbudaya hanya dapat diciptakan dengan beberapa persyaratan dasar, yang membutuhkan dukungan-dukungan, seperti dukungan politik, kebijakan, kepemimpinan dan keberanian mengambil keputusan, serta pelaksanaan secara konsekuen. Selain itu dibutuhkan pula ruang akomodasi, baik lokal maupun nasional di mana etika diterapkan, pengawasan, pengamatan, dan adanya pihak-pihak yang memelihara kehidupan etika. Kesadaran etis bisa tumbuh karena disertai akomodasi.

Berbudaya, selain didasarkan pada etika juga terkandung estetika di dalamnya. Jika etika menyangkut analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab, estetika membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.
Hakikat kodrat manusia itu adalah 1) sebagai individu yang berdiri sendiri (memiliki cipta, rasa, dan karsa), 2) sebagai makhluk sosial yang terikat kepada lingkungannya (lingkungan sosial, ekonomi, politik, budaya dan alam), dan 3) sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Perbuatan-perbuatan baik manusia haruslah sejalan dan sesuai dengan hakikat kodratinya.  Manusia dipandang mulia atau terhina tidak berdasarkan aspek fisiologisnya. Aspek fisik bukanlah tolak ukur bagi derajat kemanusiaannya.

Hakikat kodrati manusia tersebut mencerminkan kelebihannya dibanding mahluk lain. Manusia adalah makhluk berpikir yang bijaksana (homo sapiens), manusia sebagai pembuat alat karena sadar keterbatasan inderanya sehingga memerlukan instrumen (homo faber), manusia mampu berbicara (homo languens), manusia dapat bermasyarakat (homo socious) dan berbudaya (homo humanis), manusia mampu mengadakan usaha (homo economicus), serta manusia berkepercayaan dan beragama (homo religious), sedangkan hewan memiliki daya pikir terbatas dan benda mati  cenderung tidak memliki perilaku dan tunduk pada hukum alam.

Keunggulan manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab berkat ketekunannya memantau berbagai gejala dan peristiwa alam. Manusia tidak lagi menemukan kenyataan sebagai sesuatu yang selesai, melainkan sebagai peluang yang membuka berbagai kemungkinan. Setiap kenyataan mengisyaratkan adanya kemungkinan. Transendensi manusia terhadap kenyataan yang ditemuinya sebagai pembuka berbagai kemungkinan itu merupakan kemampuannya yang paling mendasari perkembangan pengetahuannya.

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki dua macam sistem budaya yang sama-sama harus dipelihara dan dikembangkan, yakni sistem budaya nasional dan sistem budaya etnik lokal. Sistem budaya nasional adalah sesuatu yang relatif baru dan sedang berada dalam proses pembentukannya. Sistem ini berlaku secara umum untuk seluruh bangsa Indonesia, tetapi sekaligus berada di luar ikatan budaya etnik lokal.

Nilai-nilai budaya yang terbentuk dalam sistem budaya nasional bersifat prospektif, misalnya kepercayaan religius kepada Tuhan Yang Maha Esa; pencarian kebenaran duniawi melalui jalan ilmiah; penghargaan yang tinggi atas kreativitas dan inovasi, efisiensi tindakan dan waktu; penghargaan terhadap sesama atas dasar prestasinya lebih daripada atas dasar kedudukannya; penghargaan yang tinggi kepada kedaulatan rakyat; serta toleransi dan simpati terhadap budaya suku bangsa yang bukan suku bangsanya sendiri.
Nilai-nilai tersebut menjadi bercitra Indonesia karena dipadu dengan nilai-nilai lain dari nilai-nilai budaya lama yang terdapat dalam berbagai sistem budaya etnik lokal. Kearifan-kearifan lokal pada dasarnya dapat dipandang sebagai landasan bagi pernbentukan jatidiri bangsa secara nasional. Kearifan-kearifan lokal itulah yang membuat suatu budaya bangsa memiliki akar. Budaya etnik lokal seringkali berfungsi sebagai sumber atau acuan bagi penciptaan-penciptaan baru, seperti dalam bahasa, seni, tata masyarakat, dan teknologi, yang kemudian ditampilkan dalam perikehidupan lintas budaya.

III. Manusia Sebagai Individu dan Mahluk Sosial
Manusia sebagai individu dengan kepribadian khasnya berada di tengah-tengah kelompok individu lain yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi. Proses dari individu untuk menjadi pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya, melainkan juga oleh kelompok di sekitarnya. Dalam proses untuk menjadi pribadi, individu dituntut mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia berada, baik lingkungan fisik dan maupun non fisik (sosial budaya).

Manusia sejak dilahirkan adalah sebagai makhluk sosial ditengah keluarganya. Manusia tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia memerlukan mitra untuk mengembangkan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Sebagai individu, manusia dituntut untuk dapat mengenal serta memahami tanggung jawabnya bagi diri sendiri dan masyarakat.

Kecenderungan manusia untuk hidup berkelompok bukanlah sekedar naluri atau keperluan yang diwariskan secara biologis semata, melainkan dalam kenyataannya manusia berkumpul sampai batas-batas tertentu juga menunjukkan adanya suatu ikatan sosial. Mereka berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain.
Interaksi antarmanusia merupakan suatu kebutuhan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Individu akan membutuhkan individu lain, karena seorang individu tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan individu lain.

Kehidupan berkelompok merupakan kebutuhan setiap individu, sehingga timbullah kelompok-kelompok sosial dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Kelompok-kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama. Suatu kelompok sosial cenderung untuk tidak menjadi kelompok yang statis, tetapi dinamis, selalu berkembang dan mengalami perubahan-perubahan baik dalam aktivitas maupun bentuknya.

Menurut Gillin dan Gillin, interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara orang perorangan, kelompok-kelompok manusia, maupun orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial dapat terjadi karena adanya komunikasi, jadi komunikasi di sini sangatlah penting artinya. Komunikasi berarti seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain baik berwujud pembicaraan, gerak, maupun sikap.

Interaksi sosial merupakan dasar dari proses sosial. Pengertian ini menunjukkan pada hubungan-hubungan yang dinamis. Interaksi sosial juga merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.

Secara umum, ada dua bentuk interaksi sosial dalam suatu komunitas masyarakat, yaitu: (1) interaksi asosiatif, dan (2) interaksi disasosiatif. Dalam perspektif asosiatif, bentuk-bentuk interaksi sosial yang berlangsung dalam suatu komunitas atau masyarakat yang bisa diklasifikasikan kepada tiga jenis interaksi sosial, yaitu: (1) kerjasama, (2) akomodasi, dan (3) asimilasi.

Dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat terdapat saling ketergantungan antara individu yang satu dengan yang lain. Setiap individu berkepentingan dengan individu-individu lain dalam kelompoknya sendiri maupun di luar kelompoknya.

Rasa berkepentingan tersalurkan melalui proses sosialisasi dan interaksi sosial. Proses sosialisasi merupakan suatu proses pembelajaran sejak dini dengan tujuan untuk membentuk kepribadiannya. Interaksi sosial terjadi ketika seorang anak mulai bergaul dengan orang lain, baik dalam lingkungan keluarganya sendiri maupun dengan orang lain atau masyarakat di luar lingkungan keluarga.

Dalam interaksi sosial, manusia mengemban nilai-nilai dan norma- norma yang berlaku sebagai penuntun atau pedoman dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat. Nilai-nilai adalah sesuatu yang ideal atau das sollen yaitu sesuatu yang seharusnya, bukan das sein atau sesuatu yang senyatanya terjadi. Namun dalam kenyataannya, ada orang atau sekelompok orang yang dengan sengaja dan sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang akan menimbulkan kesenjangan dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah-masalah dalam masyarakat. Apabila masalah-masalah itu menjadi berlarut-larut, maka gejala atau kenyataan itu akan menjadi masalah sosial. Salah satu masalah sosial yang seringkali terjadi karena dipicu oleh adanya benturan antara kepentingan umum dan kepentingan individu ataupun kelompok.

Di Indonesia yang menganut dasar negara Pancasila terdapat prinsip keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan umum. Di satu pihak kepentingan individu tidak boleh merugikan kepentingan umum, namun di lain pihak kepentingan individu juga tidak boleh terlalu terkalahkan oleh kepentingan umum.

Prinsip keseimbangan pada hakikatnya merupakan implikasi langsung dari kebenaran bahwa manusia diciptakan sederajat. Prinsip keseimbangan merupakan konsekuensi logis dari kenyataan bahwa eksistensi manusia sekaligus sebagai makhluk individual dan makhluk sosial. Hak yang melekat pada seseorang bukan hanya mengandaikan bahwa orang lain wajib menghormatinya, tetapi juga sekaligus ia wajib menghormati hak yang sama yang melekat pada orang lain. Demikian juga antara kepentingan individu dengan kepentingan umum.

IV. Manusia dan Peradaban
Istilah peradaban dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Peradaban adalah kebudayaan yang bernilai tinggi. Perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. Menurut Azyumardi Azra (2007), peradaban mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, sejak dari pandangan hidup, tatanilai, sosial budaya, politik, kesenian, ilmu pengetahuan, sains, teknologi, dan banyak lagi.

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk beradab dan berbudaya yang tidak bisa hidup di luar adab dan budaya tertentu. Manusia beradab dan berbudaya yang hidup dalam suatu masyarakat beradab bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan diciptakan melalui berbagai upaya yang mendukung terciptanya manusia beradab dan masyarakat adab.

Di Indonesia, sila kelima Pancasila Kemanusiaan yang adil dan beradab memberi pengakuan bahwa manusia yang hidup di Indonesia diperlakukan secara adil dan beradab oleh penyelenggara negara. Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung nilai bahwa suatu tindakan yang berhubungan dengan kehidupan bernegara dan bermasyarakat didasarkan atas sikap moral, kebajikan dan hasrat menjunjung tinggi martabat manusia, serta sejalan dengan norma-norma. Kemanusiaan yang adil dan beradab juga mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap budaya dan kebudayaan yang dikembangkan bangsa yang beragam etnik dan golongan.

Sila kelima Pancasila tersebut secara tegas mencita-citakan suatu masyarakat Indonesia yang beradab. Masyarakat yang beradab adalah masyarakat yang ditandai dengan ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab. Konsep masyarakat adab dalam pengertian lain adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.
Dari sejarah kita belajar bahwa secara nyata peradaban  manusia telah berubah dari waktu ke waktu. Hal ini merupakan kelebihan manusia dibanding makhluk lain. Burung membuat sarangnya tetap sama selama berabad-abad, namun manusia telah beranjak dari  gua-gua, rumah di atas pokok kayu, gubuk, rumah adat sampai dengan pencakar langit pada saat ini. Hal ini semata-mata disebabkan manusia mempunyai akal budi yang merupakan kelebihan dari makhluk hidup lainnya.

Berdasarkan akal budi manusia selalu berubah dari waktu ke-waktu dalam rangka melakukan perbaikan nilai hidup ataupun kualitas hidup. Dari kenyataan ini kita bisa belajar bahwa pada hakekatnya manusia tidak anti perubahan, walaupun perubahan bisa dilakukan secara sadar ataupun karena terpaksa berubah oleh karena suatu kondisi tertentu.

Perubahan peradaban manusia mengalami percepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya sejak terjadinya revolusi industri di Eropa pada abad ke-15. Pada abad ke 20 yang disebutkan oleh Alvin Toffler sebagai awal dari Gelombang Ke Tiga (Abad Informasi), kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi menjadi pendukung utama perubahan yang sangat cepat. Perubahan yang terjadi di suatu negara bisa mengakibatkan pengaruh berantai secara global terhadap negara lain.

Globalisasi merupakan fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.

Di Indonesia, problematika peradaban yang timbul akibat globalisasi diantaranya dapat dilihat dalam bidang bahasa, kesenian, dan kehidupan sosial. Akibat perkembangan teknologi yang begitu pesat, terjadi transkultur dalam kesenian tradisional Indonesia. Peristiwa transkultural akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian di Indonesia. Padahal, kesenian tradisional merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Dengan teknologi informasi yang semakin canggih, masyarakat disuguhi banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan televisi, masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Hal ini dapat menyebabkan terpinggirkannya kesenian asli Indonesia.

Akibat globalisasi, masyarakat banyak mengalami anomi, sehingga terjadi kompromisme sosial terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap melanggar norma tunggal masyarakat. Selain itu juga terjadinya disorientasi atau alienasi, keterasingan pada diri sendiri atau pada perilaku sendiri, akibat pertemuan budaya-budaya yang tidak sepenuhnya terintegrasi dalam kepribadian manusia sendiri.
Problematika peradaban yang penting lainnya adalah adanya kemungkinan punahnya suatu bahasa di daerah tertentu disebabkan penutur bahasanya telah terkontaminasi oleh pengaruh globalisasi. Percampuran bahasa  bisa mengancam eksistensi bahasa di suatu daerah.

V. Manusia, Keragaman dan Kesetaraan
Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu mendatang (Azyumardi Azra, 2003).
Sebagai fakta,  keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun juga bisa menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.

Setiap manusia dilahirkan setara, meskipun dengan keragaman identitas yang disandang. Kesetaraan merupakan hal yang inheren yang dimiliki manusia sejak lahir. Setiap individu memiliki hak-hak dasar yang sama yang melekat pada dirinya sejak dilahirkan atau yang disebut dengan hak asasi manusia.
Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan dapat terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata-pranata sosial, terutama pranata hukum, yang merupakan mekanisme kontrol yang secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip-prinsip kesetaraan dalam kehidupan nyata. Kesetaraan derajat individu melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, sukubangsa, kebangsawanan, atau pun kekayaan dan kekuasaan.

Di Indonesia, berbagai konflik antarsukubangsa, antarpenganut keyakinan keagamaan, ataupun antarkelompok telah memakan korban jiwa dan raga serta harta benda, seperti kasus Sambas, Ambon, Poso dan Kalimantan Tengah. Masyarakat majemuk Indonesia belum menghasilkan tatanan kehidupan yang egalitarian dan demokratis.

Persoalan-persoalan tersebut sering muncul akibat adanya dominasi sosial oleh suatu kelompok. Adanya dominasi sosial didasarkan pada pengamatan bahwa semua kelompok manusia ditujukan kepada struktur dalam sistem hirarki sosial suatu kelompok. Di dalamnya ditetapkan satu atau sejumlah kecil dominasi dan hegemoni kelompok pada posisi teratas dan satu atau sejumlah kelompok subordinat pada posisi paling bawah. Di antara kelompok-kelompok yang ada, kelompok dominan dicirikan dengan kepemilikan yang lebih besar dalam pembagian nilai-nilai sosial yang berlaku. Adanya dominasi sosial ini dapat mengakibatkan konflik sosial yang lebih tajam.

Negara-bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama, dapat disebut sebagai masyarakat multikultural.  Berbagai keragaman masyarakat Indonesia terwadahi dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terbentuk dengan karakter utama mengakui pluralitas dan kesetaraan warga bangsa. NKRI yang mengakui keragaman dan menghormati kesetaraan adalah pilihan terbaik untuk mengantarkan masyarakat Indonesia pada pencapaian kemajuan peradabannya.
Cita-cita yang mendasari berdirinya NKRI yang dirumuskan para pendiri bangsa telah membekali bangsa Indonesia dengan konsepsi normatif negara bangsa Bhinneka Tunggal Ika, membekali hidup bangsa dalam keberagaman, kesetaraan, dan harmoni. Hal tersebut merupakan kesepakatan bangsa yang bersifat mendasar.

Konstitusi secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berkesetaraan. Pasal 27 menyatakan: “Setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan” adalah rujukan yang melandasi seluruh produk hukum dan ketentuan moral yang mengikat warga negara.
Keberagaman bangsa yang berkesetaraan akan merupakan kekuatan besar bagi kemajuan dan kesejahteraan negara bangsa Indonesia. Negara bangsa yang beragam yang tidak berkesetaraan, lebih-lebih yang diskriminatif, akan menghadirkan kehancuran.

Semangat multikulturalisme dengan dasar kebersamaan, toleransi, dan saling pengertian merupakan proses terus-menerus, bukan proses sekali jadi dan sesudah itu berhenti. Di sinilah setiap komunitas masyarakat dan kebudayaan dituntut untuk belajar terus-menerus atau belajar berkelanjutan. Proses pembelajaran semangat multikulturalisme terus-menerus dan berkesinambungan dilakukan. Untuk itu, penting kita miliki dan kembangkan kemampuan belajar hidup bersama dalam multikulturalisme masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Kemampuan belajar hidup bersama di dalam perbedaan inilah yang mempertahankan, bahkan menyelamatkan semangat multikulturalisme. Tanpa kemampuan belajar hidup bersama yang memadai dan tinggi, niscaya semangat multikulturalisme akan meredup. Sebaliknya, kemampuan belajar hidup bersama yang memadai dan tinggi akan menghidupkan dan memfungsionalkan semangat multikulturalisme.
Proses pembelajaran semangat multikulturalisme atau kemampuan belajar hidup bersama di tengah perbedaan dapat dibentuk, dipupuk, dan atau dikembangkan dengan kegiatan, keberanian melakukan perantauan budaya (cultural passing over), pemahaman lintas budaya (cross cultural understanding), dan pembelajaran lintas budaya (learning a cross culture).

VI. Manusia, Nilai, Moral dan Hukum
Nilai (value) adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori sehingga bermakna secara fungsional (Djahiri, 1999).
Nilai merupakan suatu konsepsi tentang apa yang benar atau salah (nilai moral), baik atau buruk (nilai etika), serta indah atau jelek (nilai estetika). Dari sistem nilai kemudian tumbuh norma yang merupakan patokan atau rambu-rambu yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Norma-norma yang dihadapi manusia ada yang bercorak moral yaitu kewajiban moral dan nilai moral, dan ada pula yang bercorak bukan moral (nilai yang nonmoral) yang sifatnya teknis dan tidak mengandung pertimbangan-pertimbangan nilai.

Norma-norma moral ada yang bersifat evaluatif, artinya norma-norma itu berlaku dan dianggap baik bagi komunitas tertentu pada waktu tertentu, tetapi pada suatu saat dapat saja berubah, tidak lagi dapat diberlakukan karena mungkin sudah dianggap tidak baik lagi, atau norma-norma itu dapat berlaku baik bagi komunitas tertentu, tetapi belum tentu baik bagi komunitas lain.

Moral adalah tuntutan sikap dan perilaku yang diminta oleh norma dan nilai. Kata moral berasal dari kata mores (bahasa latin) yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat. John Dewey mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai susila, sedangkan Baron, dkk (1980) mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar.

Frans Magnis Suseno (1987) mengemukakan bahwa kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia, sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Kesadaran moral hanya dimiliki oleh manusia yang berakal, mempunyai perasaan, dan memiliki kehendak yang bebas (otonomi) untuk selalu mewujudkan perbuatan baik semata.
Manusia sebagai makhluk individual dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya akan berhadapan dengan kepentingan manusia lain. Konflik kepentingan secara alami akan mendorong manusia untuk saling berkompetisi dan saling mengalahkan di antara sesamanya. Kondisi ini jika tidak terkendali akan melahirkan kekacauan yang justru akan mengancam eksistensi manusia itu sendiri.

Untuk mewujudkan keteraturan, mula-mula manusia membentuk tatanan sosial yang bernama masyarakat. Untuk membangun dan mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur, maka dibutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari dua hal, yaitu aturan (hukum) dan si pengatur (kekuasaan). Dari sinilah hukum tercipta, yakni sebagai bagian pranata pengatur disamping pranata lain yaitu kekuasaan. Kedua unsur pranata pengatur ini berhubungan secara sistemik sehingga tidak bisa dipisah-pisahkan, keberadaan yang satu meniscayakan keberadaan yang lain.

Untuk menciptakan keteraturan dibuatlah hukum sebagai alat pengatur, dan agar hukum tersebut dapat memiliki kekuatan untuk mengatur, maka perlu suatu entitas lembaga kekuasaan yang dapat memaksakan keberlakuan hukum tersebut sehingga dapat bersifat imperatif. Sebaliknya, adanya entitas kekuasaan ini perlu diatur pula dengan hukum untuk menghindari terjadinya penindasan melalui kesewenang-wenangan ataupun dengan penyalah gunaan wewenang. Mengenai hubungan hukum dan kekuasaan ini, terdapat adagium yang populer: “Hukum tanpa kekuasaan hanyalah angan-angan, dan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman.”

Dalam negara hukum, semestinya hukumlah yang pertama-tama dianggap sebagai pemimpin dalam penyelenggaraan kehidupan bersama, bukan orang, “the rule of law, and not of man”. Orang bisa berganti, tetapi hukum sebagai satu kesatuan sistem diharapkan tetap tegak sebagai acuan dan sekaligus pegangan bersama. Prinsip inilah yang dinamakan dengan nomokrasi atau kekuasaan yang dipimpin oleh nilai hukum sebagai pendamping terhadap konsep demokrasi.

Dalam demokrasi, yang diidealkan adalah kepemimpinan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, dan bahkan bersama rakyat. Dalam nomokrasi, yang diidealkan sebagai pemimpin adalah hukum. Titik temu di antara keduanya terletak pada prinsip demokrasi yang berdasar atas hukum, dan prinsip nomokrasi atau negara hukum yang demokratis. Dalam negara hukum, hukum haruslah dibangun dan dikembangkan secara demokratis dan mengikuti logika demokrasi dari bawah. Hukum tidak boleh hanya diciptakan sendiri oleh para penguasa, dan pelaksanaan serta penegakannya juga tidak boleh hanya didasarkan atas interpretasi sepihak oleh mereka yang berkuasa.

VII. Manusia, Sains, Teknologi dan Seni
Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi.

Sebagian ahli mengatakan bahwa teknologi dimulai terlebih dahulu daripada sains, karena manusia sejak awal menggunakan benda sebagai alat. Sebagian ahli yang lain beranggapan sains tumbuh terlebih dahulu, karena benda sebelum digunakan pasti perlu diketahi terlebih dahulu. Namun demikian cukup dimengerti jika teknologi kemudian dirumuskan dengan pengertian yang lebar, yaitu alat atau pengetahuan manusia untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungannya atau keberlangsungan hidupnya.

Secara etimologis, teknologi berasal dari kata techne (Yunani) artinya keahlian dan logia artinya perkataan. Bell (2001) mendefinisikan teknologi sebagai seperangkat instrumen yang memungkinkan kekuatan manusia untuk mengubah sumber menjadi kesejahteraan. Heibish (2001) mendefinisikan teknologi sebagai pengetahuan yang telah ditransformasikan menjadi produk, proses dan jasa maupun struktur organisasi.
Pengembangan sains tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat, sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan penemuan, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4).

Kebutuhan manusia bukan semata melangsungkan hajat hidup, melainkan juga nilai-nilai etika dan estetika. Dalam konteks ini, seni menjadi kebutuhan dasar manusia secara kodrati. Seni berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

Manusia tidak hanya dapat menggagas, melainkan juga mengekspresikan gagasannya. Semua bidang kehidupan manusia,  baik ekonomi, sosial politik, dan budaya, memerlukan ekspresi Dengan ekspresi, maka terjadi hubungan antarmanusia.

Dalam ekspresi diri terdapat ekspresi khusus yang disebut kesenian. Dengan kesenian manusia mengekspresikan gagasan estetik atau pengalaman estetik. Kesenian merupakan penjelmaan pengalaman estetik untuk mewujudkan manusia dewasa yang sadar akan arti pentingnya berbudaya agar tidak kehilangan jati diri dan akal sehat.

Pada dasarnya iptek bersifat netral. Yang menjadikannya bermanfaat atau merusak adalah manusia yang menguasai dan mengendalikannya, yakni para pembuat keputusan atau pembuat kebijakan, termasuk ke dalamnya ilmuwan, teknolog, politisi, pengusaha, dan masyarakat umum. Dengan demikian, kunci keberhasilan bagi upaya pemanfaatan iptek bagi kesejahteraan manusia terletak pada pembinaan faktor manusia dalam mengembangkan dan menerapkan iptek ataupun mengkonsumsi produk-produk iptek.
Pada masyarakat Indonesia pada umumnya, budaya terhadap Iptek belum terbukti telah berkembang secara memadai. Hal ini tercermin dari pola pikir masyarakat yang belum bisa dianggap mempunyai penalaran objektif, rasional, maju, unggul, dan mandiri. Pola pikir masyarakat belum mendukung kegiatan berkreasi, mencipta, dan belajar.

Mekanisme yang menjembatani interaksi antara penyedia sains dan teknologi dengan kebutuhan pengguna juga belum optimal. Hal ini bisa dilihat dari belum tertatanya lembaga yang mengolah dan menterjemahkan hasil pengembangan sains dan teknologi menjadi teknologi yang siap pakai untuk difungsikan dalam sistem produksi masyarakat. Di samping itu kebijakan keuangan juga dirasakan belum mendukung pengembangan kemampuan sains dan teknologi.

Lembaga penelitian dan pengembangan Iptek masih sering diartikan dengan institusi yang sulit berkembang. Selain itu, kegiatan penelitian yang dilakukan kurang didorong oleh kebutuhan penelitian yang jelas dan eksplisit. Ini menyebabkan lembaga-lembaga litbang tidak memiliki kewibawaan sebagai sebuah instansi yang memberi pijakan scientifik sehingga berakibat pada inefisiensi kegiatan penelitian. Dampak lainnya adalah merapuhnya budaya penelitian sebagai pondasi kelembagaan riset dan teknologi, seperti yang terjadi pada sektor pendidikan. Ini berarti pendidikan di Indonesia dapat dikatakan belum mampu menanamkan karakter budaya bangsa yang memiliki rasa ingin tahu, budaya belajar dan apresiasi yang tinggi pada pencapaian ilmiah (Zuhal, 2007). Masalah dan kendala tersebut secara langsung telah menghambat perkembangan sains dan teknologi di Indonesia.

VIII. Manusia dan Lingkungan
Lingkungan hidup menurut UU No. 4 tahun 1982 adalah kesatuan ruang yang terdiri dari benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Kerusakan lingkungan atau kelangkaan sumber daya alam banyak disebabkan oleh manusia. Eksploitasi sumber daya alam yang melebihi kapasitas pemulihannya menyebabkan penurunan jumlah dan kualitas, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, dan akses terhadap lingkungan dan sumber daya alam yang tidak seimbang merupakan beberapa faktor penyebab kelangkaan atau penurunan sumber daya alam.
Perkembangan yang sangat pesat di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, mengakibatkan pemborosan sumber daya alam yang juga mengakibatkan kemerosotan kualitas lingkungan.

Semua hal tersebut di atas tidak lain sebagai akibat adanya gejala krisis kemunduran kearifan manusia dalam memperlakukan lingkungan. Oleh karena itu baik secara lokal maupun global lingkungan hidup harus menanggung berbagai kemerosotan kualitas sumber daya alam maupun lingkungan.

Pelestarian lingkungan perlu dilakukan karena kemampuan daya dukung lingkungan hidup sangat terbatas baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Pengelolaan lingkungan hidup dilakukan secara sukarela baik oleh individu maupun kelompok masyarakat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan, dan dilakukan berdasarkan pedoman yang ada yaitu dengan UndangUndang no. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH). Adapun tujuan dari pedoman PLH adalah agar setiap kegiatan yang dilakukan oleh engguna lingkungan tidak merusak lingkungan, melainkan harus berwawasan lingkungan.

Daftar Pustaka

A. Poedjiadi. 1990. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi Di masa yang Akan Datang.” Makalah, Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum, Jakarta, 17-19 Januari 1990.

Bertens, K. 1999. Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Budiono Kusumohamodjojo. 2000.  Kebhinekaan Masyarakat Indonesia, Jakarta: Grasindo.

Burhanudin Salam. 1997.  Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Djoko Santoso. 2008. “Pembudayaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Membangun Bangsa Melalui Budaya Produktif Riil,” Makalah, disampaikan pada Konvensi Kampus V, Yogyakarta 4-5 Agustus 2008.

Erich Fromm. 1995. Masyarakat yang Sehat, terj. Murtianto T.B. Jakarta: Yayasan   Obor.

Haviland, W.A. 1999. Antropologi. Jakarta: Erlangga.

Hogg, M.A. & Abram, D. 1988. Social Identification: A Social Psychology of Intergroup  Relation and Group Processes. London: Routledge.

Iskandar Alisyahbana. 1980. Teknologi dan Perkembangan. Jakarta : Yayasan Idayu.

James Danandjaja.1988. Antropologi Psikologi. Jakarta: PT.  Raja Grafindo  Persada.

Jimly Asshiddiqie. 2000. “Reformasi Menuju Indonesia Baru: Agenda Restrukturisasi Organisasi Negara, Pembaruan Hukum, dan Keberdayaan Masyarakat Madani,” Makalah, Disampaikan dalam forum Kongres Mahasiswa Indonesia Sedunia I di Chicago, Amerika Serikat, 28 Oktober 2000.

Kaplan, D & Manners, A. A. 1999. Teori budaya. Terjemah Landung Simatupang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Koentjaraningrat. 1981.  Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

_______________. 1983. Antropologi budaya. Jakarta: Gramedia.

_______________. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Kohlberg, L. 1995. Tahap-tahap Perkembangan Moral. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Komaruddin Hidayat. 1998. “Masyarakat Agama dan Agenda Penegakan Masyarakat Madani,” Makalah, disampaikan pada Seminar Nasional dan Temu Alumni Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 September 1998.

M. Dawam Rahardjo. 2007. “Strategi Kebudayaan di Era Globalisasi,” Makalah, disampaikan pada acara Orasi Budaya yang diselenggarakan oleh Galeri Publik (Institute For Global Justice), di Jakarta, pada tanggal 26 Juli 2007.

Nasikun. 1984. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali.

Parsudi Suparlan. 2001. “Bhinneka Tunggal Ika:  Keanekaragaman Sukubangsa atau Kebudayaan?  Makalah, disampaikan dalam Seminar  “Menuju Indonesia Baru”.  Perhimpunan Indonesia Baru – Asosiasi  Antropologi Indonesia.  Yogyakarta, 16 Agustus 2001.

_______________. 2001. “Indonesia Baru Dalam Perspektif Multikulturalisme”. Harian Media Indonesia, 10 Desember 2001.

_______________. 2002. “Kesetaraan Warga dan Hak Budaya Komuniti dalam Masyarakat Majemuk Indonesia”.  Jurnal Antropologi Indonesia, No. 6.

_______________. 2002. Konflik Antar-Sukubangsa dan Upaya Mengatasinya. Temu Tokoh , “Dengan Keberagaman Etnis Kita Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Menuju Integrasi Bangsa”, Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKNST) Pontianak  Singkawang, 12-14 Juni 2002.
Poerwadarminta, W.J.S. 1983.  Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Sartono Kartodirdjo. 1999. Ideologi dan Teknologi dalam Pembangunan Bangsa: Eksplorasi Dimensi Historis dan Sosio-Kultural. Jakarta: Pabelan Jayakarta.

Sarwono, S.W. 1999. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.

Soerjono Soekanto. 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Suseno, Frans Magnis. 1999. Etika Jawa: Sebuah Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suyatno Kartodirdjo. “Revitalisasi Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa dalam Rangka Menuju Indonesia Baru”, Makalah, disajikan dalam Sarasehan Membangun Wawasan Kebangsaan melalui Revitalisasi Budaya diselenggarakan oleh Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, PII dan HKMN Suryasumirat, di Surakarta, 5 Agustus 2000.

Syafri Sairin & Pujo Semedi. 1992. Telaah Pengelolaan Keserasian Sosial dari Luar Negri dan Hasil Penelitian Indonesia, Laporan Penelitian. Jakarta: Kantor Meneg KLH dan UGM.

Taylor, D.M. & Moghaddam, F.M. 1994. Theories of Intergroup Relations. London: Praeger.

Usman Pelly. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi, Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: LP3ES.

Wertheim, W.F. 1999. Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial. Terjemah Misbah Zulfa Ellizabet, Yogyakarta: Tiara Wacana.

BIOLOGI SEL

Januari 24, 2010
  1. 1. Pengertian Mitosis

Mitosis adalah pembelahan salah satu induk yang menghasilkan dua sel anak tanpa mengalami perubahan jumlah kromosom. Pada pembelahan mitosis, satu sel induk membelah diri menjadi dua sel anak yang mewarisi semua sifat sel induk. Kedua sel anak ini bersifat identik. Oleh karena itu jumlah kromoson yang dimiliki oleh sel induk sama dengan sel jumlah kromoson pada sel anak. Kromoson merupakan benang- benang pembawa sifat suatu individu.

Proses pembelahan mitosis terjadi pada semua sel tubuh makhluk hidup, kecuali pada jaringan yang menghasilkan sel gamet. Mitosis hanya terjadi pada proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan dan organ tubuh mahluk hidup.

  • Tahapan Mitosis

Tahapan- tahapan yang terjadi selama mitosis dibagi ke dalam empat fase yang berurutan, yaitu profase, metafase, anafase, dn telofase. Fase diantara pembelahan-pembelahan satu dengan yang lain disebut dengan interfase. Fase-fase pada mitosis merupakan tahapan yang berkesinambungang.

  1. Profase

Profase atau fase awal, adalah tahapan ketika sel akan membelah diri tanda- tanda fase adalah sebagai berikut :

1)      Benang- benang kromatin di nukleus yang semula berbentur jala berubah semakin menebal dan memendek, menjadi kromoson. Pada fase ini kita dapat menghitung jumlah pasangan kromoson di dalam sel. Benang- benang kromosom tersebut berpasangan. tiap-tiap benang kromoson menggandakan diri sehingga membentuk struktur simetris yang disebut sebagai kromatid. Jadi, jumlah benang kromoson menjadi dua kali lipat. kromatid tersebut saling berhubungan melalui suatu bentukan yang bulat yang disebut sentromer.

2)      Membran nukleus melebur sehingga sel tidak memiliki membran intinukleous (anak inti) tidak tampak lagi, yang berarti kegiatan transkripsi (DNA mengkopi diri membentuk RNA) tidak berlangsung lagi.

3)      Pada sel hewan terdapat sentriol yang membelah diri, kemudian  masing- masing menuju ke kutub, dari kutub sentriol membentuk banang- benang spindel yang menghubungkan kedua kutub sel. Melalui kutub spindel inilah nantinya tiap- tiap kromoson berjalan menuju kutub masing- masing.

  1. Matafase

Ciri penting dari metafase adalah terjadinya pembagian kromatid didaerah ekuator. Adapun ciri- ciri metafase adalah sebagai berikut :

1)      Kromatid terletak dibidang ekuator, menggantung pada benang spondel melalui sentromer. Pada metafase tampak adanya dua kromatid hasil penggandaan profase (satu kromatid mengandung satu sel kromosom), yang sedang mengalami pembagian menjadi dua tiap- tiap sel anak akan mendapatkan satu kromatid. Sentromer juga dapat disebut kinetokor.

2)      Benang- benang spindel tampak semakin jelas

  1. Anafase

Fase ketika kromoson bergerak dari bidang ekuator ke arah kutub disebut dengan anafase kromosom tersebut bergerak menuju kutub. Masing-masing gerakan kromosom ke kutub dituntun oleh benang speindel agar kromoson tidak bergerak secra acak. Benang kontraktil spindel dapat menarik kromosom ke arah kutub. Kromosom yang bergerak ke arh kutub biasanya berbentuk huruf V.

  1. Telofase

Fase ini merupakn fase akhir pembelahn dengan ciri- ciri sebagai berikut :

1)      Benang- benang kromosom sudah berada didaerah kutub msing- masing yang semakin lama semakin menipis, kemudian berubah menjadi benang- benang kromatin yang tipis.

2)      Membran nukleus mulai terbentuk

3)      Nukleus mulia muncul kembali

4)      Pada bidang ekuator terbentuk penebalan plasma, yang selanjutnya akan membagi sel anak yang identik stu sama lain dan identik dengan sel induknya

  1. Interfase

Pada masa interfase dibedakan menjadi tiga periode interfase bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sel tumbuh dan melakukan berbagai sintesis sebelum memasuki proses pembelahan berikutnya.

1)      Fase Pertumbuhan Primer (G1)

Sel yang baru terbentuk mengalami pertumbuhan tahap pertama organel – organel yang ada didalam sel seperti mitokondri, retikulum endoplasma, kompleks Golgi, dan organel yang lainnya memperbanyak diri guna menunjang kehidupan sel.

2)      Fase Sintesis (S)

Pada tahap ini, sel melakukan sintesis terutama sintesis materi genetik. materi genetik adalah bahan- bahan yang akan dwariskan kepada keturunannya. materi genetik yang disentosis adalah DNA.

3)      Fase Peertummbuhan Sekunder (G2)

Menjelang mitosis berikutnya, sel melakukan pertumbuhan kedua dengan memperbanyak organel- organel yang dimilikinya. hal ini dimaksudkan agar organel- organel tu dapat diwariskan kepada setiap sel keturunannya.

  1. Fungsi Mitosis Bagi Mahluk Hidup

Berbagai reproduksi sel seksual dilakukan mitosis Mitosis berguna untuk memelihara pertumbuhan sel- sel baru serta menja dan memperbaki bagian tubuh organisme. Mitosis terjdi pda mahluk hidup multiselular.

Pada beberapa jenis tumbuhan, mitosis menghasilkan suatu organisme baru yang utuh melalu reproduksi seksual dan memiliki gen- gen yang sama persis dengan induknya.

2. Pengertian Meiosis

Pembelahan meiosis adalah pembelahan satu sel induk yang menghasilkan empat sel anak. Setiap sel anak hasil meiosis mewarisi setengah set kromosom sel induk. Mula-mula sel induk memilki 2n kromosom (sel diploid) dan akhirnya terbentuk empat sel anak yang masing-masing memiliki n kromosom (sel haploid).

Baik sel sperma maupun sel ovum mewarisi setengah set kromosom sel induk. Jadi, masing-masing merupakan sel haploid. Jika terjadi fertilisasi, ovum dan sperma melebur menjadi satu sel zigot. Sel zigot mengandung 2n kromosom (sel haploid). Jadi, di dalam sel zigot terkandumg setengah set kromosom induk jantan dan separuh sifat induk betina.

  • Tahapan Meiosis I

Pembelahan dari meiosis dapat dipisahkan menjadi fase-fase yang serupa dengan yang tejadi pada mitosis. Akan tetapi, terdapat perbedaan-perbedaan penting pada perilaku kromosomnya dalam pembelahan yang pertama

  1. Profase I

Profase pada pembelahan meiosis merupan proses yang lebih lamban dan lebih rumit dibanding dengan mitosis. Para ahli sitologi membagi profase I menjadi lima tahapan yaitu :

  1. Leptoten dengan ciri kromosom memanjang, dan tampak tunggal.
  2. Zigoten dengan ciri pasangan kromosom homolog membentuk n bivalen.
  3. Pakiten dengan ciri bivalen memendek
  4. Diploten dengan ciri homolog sedikit tertarik berpisahan sehingga tampak kromatid dan hia mata yang tepisah.
  5. Diakinesis dengan ciri sentromer homolog bergerak menjauh, kromatid terus memendek.

Ketika kromosom-kromosom mula-mula mulai tampak (leptoten profase I), setiap homolog ternyata merupakan struktur tunggal. Namun seperti halnya pada mitosis, kebanyakan daripada DNA selnya berganda selama fase S yang mendahului profase I, jadi kita berkesimpulan bahwa sebenarnya struktur tersebut sudah ganda. Selagi profase berlanjut (zigoten dan pakiten), setiap kromosom dalam sel itu berpasang-pasangan dengan homolognya menurut panjangnya. Proses berpasangan ini (juga disebut sinopsis) merupakan ciri yang sangat khas bagi meiosis, tidak ada dalam meiosis, tidak ada dalam mitosis. Homolog yang berpasangan itu disebut bivalen.

Kemudian (diploten), kedua homolog ini semakin menjauh. Pada saat ini fakta bahwa masing-masing mengandung sepasang kromatid seasal pada akhirnya mulai kelihatan. Jadi, setiap bivalen mengandung empat utasan kromatid. Akan tetapi, keempat utasan itu tetap berkaitan dengan dua mekanisme, yaitu:

  1. Kromatid seasal setiap homolog tetap menempel pada satu sentromernya.
  2. Pada satu titik atau lebih dua kromatid tidak seasal terikat bersama.

Titik-titik tempel ini disebut kiasmata (tunggal kiasma). Pada setiap kiasma, kromatid seasal telah bertukaran segmen-segmen. Proses penukaran ini disebut alih silang. Proses ini bersifat saling berbalasan, artinya bahwa bagian-bagian yang dipertukarkan itu oleh kromatid seasal adalah identik.

  1. Metafase I

Pada meiosis menyerupai metafase pada mitosis dengan hilangnya membran nuklir dan munculnya gelendong. Akan tetapi, berbeda dalam satu segi yang genting daripada metafase pada mitosis. Pada metafase I, sentromer setiap pasang homololog tertempel pada gelendonya-satu I atas dan satu lagi di bawah ekuator. Daerah ekuator sehingga setengah dari pasangan kromosom homolog mengarah ke kutub yang satu dan setengah pasanga kromosom homolog mengarah ke kutub yang lain. Sentrosom menuju ke kutub dan mengeluarkan benang-benang spinder.

  1. Anafase I

Kromosom bergerak menuju kutub masing-masing. Tidak seperti pada mitosis yang mengalami pembelah sentromer, pada meiosis tiak terjadi pembelahan sentromer. Akibatnya, setiap kromosom yang bergerak

Menuju ke kutub sel itu masih mengandung dua kromatid atau masih berpasangan. Dengan dimulainya anafase I, kedua sentromer setiap bevalen berpindah ke kutubnya masing-masing hal ini memisahkan bevalen tersebut menjadi setengah bevalen.

  1. Telofase

Setelah kromosom yang berpasangan itu tiba di kutub masing-masing bentuklah membran nukleus, yang diikuti pula oleh proses sitokinosis (pembelahan sitoplasma sel). Kini terbentuk dua sel anak, setiap sel anak mengandung n kromosom sehingga pada akhir telofase I terbentuk dua sel anak yang haploid. Pada saat  ini sel sudah siap memasuki pembelahan meiosis II.

  • Meiosis II

Meiosis II mirip dengan mitosis. Tahapan selengkapnya sebagai berikut.

1).  Profase II

Pada fase awal benang kromatin menebal dan memendek membentuk kromosom. Pada fase ini tidak terjadi proses penggandaan kromosom sehingga jumlah set kromosom tetap.

2).  Metafase II

Kromosom mengumpul di daerah ekuator. Setengah kromosom mengarah ke kutub masing-masing. Sentromer terbagi dua, masing-masing mengarah ke kutub, sebagai tempat melekatnya kromosom pada benang-benang spindel.

3).  Anafase II

Kromosom bergerak menuju ke kutub masing-masing.

4).  Telofase II

Setelah kromosom terbentuk di kutub masing-masing, terbentuklah membran inti. Tiap-tiap inti mengandung n kromosom (sel haploid). Akhirnya diikuti oleh proses sitokinesis sehingga seluruhnya terbentuk empat sel anak haploid.

  1. A. Siklus sel

Siklus sel terdiri dari 5 phase, yang pertama adalah pemisahan sebuah sel didalam tubuh. Ketika sel berpisah atau membelah menjadi 2 sel disebut mitosis.

Siklus Sel :

Go = Sel sedang diam

G1 = RNA dan protein dibuat

S = DNA dibuat

G2 = Perlengkapan untuk pembelahan ( mitosis ) di bangun/dibuat

M = Mitosis ( Sel membelah menjadi dua )

  1. 1. Phase Go ( resting stage ) :

Sel belum mulai membelah. Sel menghabiskan waktu paling banyak adalah pada phase ini. Tergantung dari type sel, langkah ini dapat berlangsung dari beberapa jam hingga bertahun – tahun. Ketika sel mendapat kode untuk menggandakan, maka kemudian dia akan menuju phase Go.

  1. 2. Phase G1:

Selama phase ini, sel mulai membuat lebih banyak protein guna persiapan untuk membelah. Phase ini berlangsung antara 18 hingga 30 jam

  1. 3. Phase S :

Chromosome – chromosome yang berisi kode genetic ( DNA ) dicopy sehingga kedua sel yang baru terbentuk itu akan mempunyai jumlah DNA yang sama. Phase ini berlangsung antara 18 hingga 20 jam.

  1. 4. Phase G2 :

Phase ini adalah phase saat-saat sel mulai akan membelah menjadi 2 sel. Ini berlangsung 2 hingga 20 jam

  1. 5. Phase M :

Phase ini adalah phase pada saat sel membelah menjadi 2 sel. Phase ini berlangsung hanya 30 atau 60 menit.

Mitosis dan meiosis merupakan bagian dari siklus sel dan hanya mencakup 5-10% dari siklus sel. Persentase waktu yang besar dalam siklus sel terjadi pada interfase. Interfase terdiri dari periode G1, S, dan G2. Pada periode G1 selain terjadi pembentukan senyawa-senyawa untuk replikasi DNA, juga terjadi replikasi organel sitoplasma sehingga sel tumbuh membesar, dan kemudian sel memasuki periode S yaitu fase terjadinya proses replikasi DNA. Setelah DNA bereplikasi, sel tumbuh (G2) mempersiapkan segala keperluan untuk pemisahan kromosom, dan selanjutnya diikuti oleh proses pembelahan inti (M) serta pembelahan sitoplasma (C). Selanjutnya sel hasil pembelahan memasuki pertumbuhan sel baru (G1).

Kita mengenal tiga jenis reproduski sel, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis (pembelahan reduksi). Amitosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.

Mitosis adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur, yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang dinarnakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti.

Secara garis besar ciri dari setiap tahap pembelahan pada mitosis adalah sebagai berikut:

  1. Profase:
    Pada tahap ini yang terpenting adalah benang-benang kromatin
    menebal menjadi kromosom dan kromosom mulai berduplikasi menjadi
    kromatid.
  2. Metafase:
    Pada tahap ini kromosom/kromatid berjejer teratur dibidang
    pembelahan (bidang equator) sehingga pada tahap inilah kromosom
    /kromatid mudah diamati dan dipelajari.
  3. Anafase:
    Pada fase ini kromatid akan tertarik oleh benang gelendong menuju ke kutub-kutub pembelahan sel.
  4. Telofase:
    Pada tahap ini terjadi peristiwa kariokinesis (pembagian inti  menjadi dua bagian) dan sitokinesis (pembagian sitoplasma menjadi dua bagian).

Meiosis (Pembelahan Reduksi) adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.

Meiosis terbagi menjadi due tahap besar yaitu Meiosis I dan Meiosis II baik meiosis I maupun meiosis II terbagi lagi menjadi tahap-tahap seperti pada mitosis. Secara lengkap pembagian tahap pada pembelahan reduksi adalah sebagai berikut :

Berbeda dengan pembelahan mitosis, pada pembelahan meiosis antara telofase I dengan profase II tidak terdapat fase istirahat (interface). Setelah selesai telofase II dan akan dilanjutkan ke profase I barulah terdapat fase istirahat atau interface.

Perbedaan Antara Mitosis Dengan Meiosis

Aspek yang dibedakan Mitosis Meiosis
Tujuan Untuk pertumbuhan Sifat mempertahan-kan diploid
Hasil pembelahan 2 sel anak 4 sel anak
Sifat sel anak diploid (2n) haploid (n)
Tempat terjadinya sel somatis sel gonad

Pada hewan dikenal adanya peristiwa meiosis dalam pembentukan gamet, yaitu Oogenesis dan Speatogenesis. Sedangkan pada tumbahan dikenal Makrosporogenesis (Megasporogenesis) dan Mikrosporogenesis.

  1. B. Diferensiasi Sel

Diferensiasi adalah suaru proses yang menjadikan sel menerima fungsi biokoimia dan morfologi khusus yang sebelumnya tidak ada. Sel-sel yang ditentukan seperti itu biasanya kehilangan kemampuan untuk membelah. Dan juga merup[akan proses yang dapat mengakibatkan sekumpulan sel menjadi berbeda-beda dalam struktur, fungsi dan perilaku.

Terjadinya diferensisasi, berlangsung saat embrio. Dengan adanya diferensisasi terjadi pembagian pekerjaan atau aktivitas tubuh sehingga lebih efektif. Dengan adanya diferensisasi maka akan terjadi spesialisai bagi berbagai populasi sel anak. Spesialisasi itu terjadi baik intra maupun ekstra seluler.

Spesisalisasi ekstra ialah seperti pembentukan serat ekstra seluler oleh sel-sel fibroblas pada jaringan pengikan dan penunjang, lalu pembentukan bahan metriks, bagi sejenis jaringan dan populasi sel adalah khas.

  1. Sel otak banyak mengandung mikrofilamen aktin dan miosin yang tersusun berjejer rapat, juga banyak mengandung mitokondria sebagai sumber energi bagi proses berkerut mengendur.
  2. 2. Sel kelenjar penghasil enzim banyak mengandung retikulum endoplasma dan alat golgi yang besar.
  3. Sel efitel kulit banyak mengadung retikulum endoplasma dan giat meproduksi serat keratin.
  4. Sel saraf memiliki bentuk khas panjang halus seperti serat dan mampu mengalirkan rangsangan listrik maupun kimia, pada ujung serabut menghasilkan cairan kimia yang disebut neurotransmitter.
    1. C. Tahap diferensiasi

Dalam diferensiasi terjadi kedalam beberapa tahapan yaitu pada tingkat pertumbuhan embrio. Seperti zigot, blastula, grastula, tubulasi, organogenesis.

  1. Zigot

Zigot adalah ovum yang dibuahi spermatozon. Bagian atas ovum disebut kutub animal terdapat daerah ooplas (sitoplasma ovum) yang nantinya akan menjadi bakal ektoderm. Bagian bawah kutub ovum disebut kutub vegetal ooplas yang akan menjadi bakal mesoderm. Sedangkan bagian samping antara kedua kutub akan menjadi bakal endoderm. Eksoderm bakal tumbuh menjadi epidermis dan saraf. Endoderm bakal menjadi lapisan lendir saluran pencernaan bersama kelnjar dan paru, mesoderm bakal menjadi jaringan pengikat, penunjang, otot, alat dalam.

  1. Blastula

Terjadi pada tingkat pertumbuhan embrio, terbentuk daerah kelompok sel yang akan menjadi jaringan utama tubuh. Setelah berdiferensiasi, pupolasi sel menjadi epidermis, saraf, notokord (sumbu penyokong primer), mesoderm. Diferensiasi mulai terjadi pada kelompok sel. Blastomer (sel blastula) sebelah bakal jadi endoderm, sebelah atas bakal jadi ektoderm, dan bagian tengah bakal menjadi mesoderm.

  1. Gastrula

Pada tingkat gastrula, embrio sudah mengandung 3 lapis benih yang terdiri dari sel-sel yang tersusun di daerah tertuntu tubuh, yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm. Pada tingkat grastula, baru berupa daerah sel sedangkan pada tingkat gastrula sudah membentuk lapisan yang sangat jelas. Diferensiasi berlanjut dengan terbentuknya 3 lapis benih yaitu ektoderm sebelah luar, endoderm sebelah dalam dan mesoderm di tengah.

  1. Tubulasi

Pada tingkat tubulasi, ketiga lapis benih, sudah berupa bumbung sehingga merupakan bumbung epidermis yang melingkup seluruh permukaan tubuh. Bumbung saraf bagian depan, bakal jadi otak dan yang belakang bakal bakal jadi batang saraf punggung. Bumbung endoderm menjadi lapisan lendir saluran pencernaan, dan bumbung mesoderm akan membentuk otot, alat dalam dan rongga tubuh. Diferensiasi makin rinci pada tingkat tabulasi. Lapisan ektoderm membentuk bumbung epidermis/kulit dan bumbung saraf, lapisan endoderm membentuk bumbung saluran pencernaan, dan lapisan mesoderm membentuk berbagi bumbung dan saluran pada berbagi alat dalam.

  1. Organogenesis

Pada tingkat organogenesis, diferensiasi lebih rinci lagi, di sini sudah terbentuk seluruh macam jaringan dan alat tubuh secara lengkap, sehingga pada saat kelahiran anak sudah dalam bentuk yang tetap. Pada beberapa Vertebrata rendah, seperti ikan dan amfhibi masih ada tingkat berudu, sebagai bentuk tetap,.

Bumbung mengalalami diferensiasi lagi berbentuk berbagai alat. Bumbung saraf membentuk bagian-bagian otak dengan kuncup indera. Bumbung endoterm berdiferensiasi membentuk saluran pencernaan dan saluran pernapasaan termasuk kelenjar hati dan pankreas. Bumbung mesoderm berdiferensiasi membentuk otot , tulang, ginjal, gonad, jaringa pengikat, serta darah bersama pembuluh dan jantung.

TEMPAT DIFERENSIASI DAN FAKTOR-FAKTOR DIFERENSIASI

  1. A. TEMPAT DIFERENSIASI

Sebelum membahas tentang tempat diferensiasi dan faktor-faktor diferensiasi kita harus mengetahui tentang pengertian diferensiasi. Diferensiasi adalah suatu proses yang menjadikan sel atau klon sel menerima fungsi biokimia dan morfologi khusus yang sebelumnya tidak ada.

Diferensiasi terjadi pada tiga tempat, yaitu intra dan ekstrasel, populasi sel serta jaringan dan alat.

  1. Diferensiasi intrasel dan ekstrasel

Diferensiasi intrasel terjadi pada organel. Untuk menjadi sel otot terjadi spesialisasi pada mikrotubul dan mikrofilamen, juga makin banyak terbentuknya mitokondria dibandingkan dengan sel alin. Pada sel kelenjar penggetah enzim dan lendir terjadi spesialisasi pada reticulum endoplasma, ribosom dan badan golgi, akan sangat aktif dan banyak mengisi sel.

  1. Diferensiasi populasi sel, diferensiasi jaringan dan alat.

Diferensiasi populasi sel terjadi pada bahan interseluler dan pertautan sel atau komunikasi sesame sel sepopulasi. Semua sel sepopulasi mengandung junction yang khas dan lewatnya dapat dialkukan komunikasi dan distribusi bahan secara merata. Antara sel tetangga dibentuk semen(cement) untuk merekatkan sel di sebelahnya. Sel sepopulasi atau sejaringan, biasanya memiliki pertautan/sambungan/junction. Agar kerukunan dan keharmonisan dapat dipelihara. Pada keadaan biasa, populasi sel dicegah agar tidak terjadi pergerakan pindah meninggalkan populasinya, yaitu dengan adanya sifat contact inhibition antara selnya. Sementara itu sel sepopulasi dicegah untuk membelah terus yaitu dengan adanya zat khalon. Khalon adalah substansi yang sukar diekstrak (glikoprotein dengan berat molekul lebih kecil dari protein pada umumnya dan dapat merembes masuk sel sacara difusi terikat, bertindak sebagai koresepsor dalam pengaturan sintesa protein), terdapat dalam jaringan mamalia dan mempunyai pengaruh anti mitosis dari suatu pengaturan diri yang bergantung pada ketebalan jaringan yang memproduksinya. Hal ini perlu, agar suatu jaringan tidak terjadi over populasi atau mengalami hyperplasia (pembelahan berlebihan pada sel dewasa). Khalon akan terlepas dari jaringan jika terjadi luka sehingga sel di sekitar luka dapat terdediferansiasi lalu bermitosis sehingga terjadi penyembuhan sel. Sel kanaker tidak mengandung sifat contact inhibition maupun zat khalon. Oleh sebab itu sel kanker berkeliaran, tidak diam dan rukun dengan sel tetangga, namun terus bermitosis. Khalon terus bekerja mengontrol pertumbuhan dan diferensiasi sel pada organogenesis, sehingga terbentuk berbagai jenis jaringan dan organ. Adanya zat khalon, suatu alat/organ akan tumbuh seimbang dengan alat/organ lain.

Sel embrio dan sel induk mampu berdifernsiasi. Sel embrio artinya masih pluripoten, sel dewasa unipoten. Sel induk selalu bersifat muda dan umurnya yang terbatas diperbaharui pada sel anak. Sel embrio yang terdapat pada seluruh bagian tubuh embrio, sel induk terkandung dalam berbagai jaringan atau alat/organ sejak embrio sampai dewasa. Pada tumbuhan, sel induk terdapat pada jaringan meristem, yaitu pada pucuk akar, pucuk batang, cambium. Pada hewan terdapat dalam gonad, disebut epitel germinal, lapisna benih epidermis/kulit luar, sumsum tulang kelenjar, lapisan lender saluran pencernaan, saluran pernapasan, kelamin dan saluran kemih; juga tersebar pada jaringan pengikat di berbagai daerah tubuh.

Sel yang sudah berdiferensiasi tidak mampu lagi bermitosis, namun akan menua. Hal ini disebabkan Karena sifat kehidupan memiliki umur terbatas, fana, tidak kekal. Pada suatu ketika sel menua pun akan mati.

  1. B. FAKTOR DIFERENSIASI

Faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sel ada dua yaitu ekstrinsik dan intrinsik.

  1. Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstrinsik adalah factor yang berasal dari luar sel. Faktor ekstrinsik terdiri dari supali bahan metabolis dan elektrolit, gas pernapasan, gravitasi, suhu, sinar matahari, pH, letak sel dan kadar zat inductor dan mesoderm.

Protoplasma, merupakan bahan sel anak, sebagian besar terdiri dari protein dan lemak. Lemak membina membrane bersama protein, sedngkan protein sendiri membina sebagian besar organel dan bahan produksi. Oleh sebab itu dalam pertumbuhan dan diferensiasi, sintesa protein memegang peran utama. Arah diferensiasi ditentukan pada arah atau bentuk sintesa protein. Factor intrinsic dan ekstrinsik diferensiasi di atas berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sintesa protein.

Contoh diferensiasi sel embrio jadi sel pigmen melanosit. Sel pigmen mengandung pigmen melamin. Melanin dibentuk dari bahan mentah asam amino fenilalanin, maka diperlukan enzim tironase. Enzim ini disintesa dalam reticulum endoplasma, lalu disekresi berupa granula berisi pigmen melanin oleh badan golgi. Enzim tersebut disintesa melalui proses transkripsi (pencetakan ARN) dan tranlasi (menerjemahkan informasi genetis yang dibawa ARN-m menjadi untaian asam amino dalam ribosom). Trnskripsi dan translasi ditentukan oleh kromatin dalam inti. Kadar fenilalanin dalam sitoplasma juga ikut menentukan diferensiasi sel induk menjadi melanosit.

Diferensiasi sel embrio menjadi sel otot dipengaruhi oleh banyak factor dan melalui proses yang panjang serta menempuh sintesa protein. Mikrofilamen aktin dan myosin adalah protein. Untuk terbentuknya mikrofilamen diperlukan enzim dan enzim terbentuk melaluisintesa protein. Pada sel otot banyak mengandung mitokondria yang terdiri dari lemak dan protein. Diferensiasi sel embrio menjadi sel epidermis melalui tahapan sintesa protein karena serat keratin yang membina sel tersebut adalah protein.

Diferensiasi untuk menjadi sel kelenjar akan menghasilkan lender, enzim, hormone dan antibody harus melewati sintesa protein. Bahan-bahan sel yang telah berdifernsiasi mengandung gabungan protein, lemak atau karbohidrat, diproses dalam mitokondria dan badan golgi.

Jika berbeda jumlah, komposisi dan keisomeran asam amino, maka proteinnya pun akan berbeda pula. Untuk terbentuknya sejenis protein yang dibina atas beratus-ratus asam amino, walaupun jenis asam amino hanya sekitar 20 macam, diperlukan banyak enzim. Setiap tingkat reaksi kimia dalam sel, memerlukan enzim khusus. Jenis protein atau bahan protoplasma yang terbentuk dalam diferensiasi dapat beribu-ribu jenis, maka jenis enzim yang diperlukan untuk pembentukannya pun berlipat ganda banyaknya, mungkin sampai ratusan ribu jenis.

Setiap enzim dikode oleh sejenis gen. jika suatu protein atau bahan protoplasma disintesa dengan memerlukan lima tahap reaksi, berarti lima jenis enzim maka untuk satu jenis protein itu perlu ada lima jenis gen.

Pada faktor ekstrinsik kadar dan komposisi bahan yang masuk sel melalui membrane dapat menjadi faktor difernsiasi. Sampai saat ini belum dapat ditelusuri bentuk kadar dan komposisi bahan yang tepat untuk mengarahkan pertumbuhan suatu sel. Misalnya pada sel otot dapat menerima dan mengalirkan rangsang berupa arus listrik serta zat cairan, terutama karena membrane selnya peka akan perubahan konsentrasinya ion Na+ dan K+. semua itu hanya faktor genetislah yang memprogram.

Dalam diferensiasi, O2 menentukan arah dan jalan diferensiasi. Sel yang berada di sebelah luar akan mendapat lebih banyak gas pernafasan daripada sel yang berada di sebelah dalam tubuh embrio. Oleh sebab itu terjadi perbedaan dalam kadar ATP juga segala aktivitas sel.

Gravitasi berpengaruh pada distribusi bahan dalam sitosol, terutama berpengaruh pada ovum yang mengandung banyak makanan cadangan yagn disebut deutoplasma atau yolk. Deutoplasma menumpuk di daerah kutub vegetal, sedangkan di daerah kutub animal sedikit sekali. Hal ini berakibat pada daerah kutub animal lebih mudah dan lebih sering membelah diri; sedangkan di daerah kutub vegetal lebih besar-besar selnya dan lebih banyak mengandung deutoplasma. Dengan adanya dua perbedaan tersebut, maka terjadilah diferensiasi sel. Sel-sel daerah kutub animal, ovum biasanya akan menjadi jaringan epidermis dan saraf, sedangkan daerah kutub vegetal akan menjadi lapisan lender, saluran pencernaan yang banyak mengandung kelenjar sedngkan daerah antara kutub animal dan vegetal akan menjadi sel-sel membina lapisan mesoderm yang akan menjadi jaringan penunjang, jaringan pengikat dan jaringan otot.

Suhu dapat mempengaruhi arah dan jalan diferensiasi. Diferensiasi bias terjadi melalui difernsiasi dalam sintesa protein. Proses sintesa protein memerlukan banyak enzim dan enzim memerlukan suhu media yang optimum, maka mudah dimengerti bahwa  variasi pada suhu lingkugan dapat mempengaruhi arah dan jalan difernsiasi. Faktor pH juga mempengaruhi diferensiasi. Enzim bekerja optimal pada pH media yang cocok, jika pH naik-turun akan menyebabkan difernsiasi.

Sinar terutama berpengaruh pada pertumbuhan sel berpigmen, baik pada hewan maupun tumbuhan. Jika sinar matahari kurang atau tidak ada, pertumbuhan sel pigmen akan tertahan. Letak sel dalam tubuh embrio dapat menjadi factor difernsiasi. Sel yang letaknya sebelah luar akan lebih banyak mendapat O2 , namun akan lebih banyak menerima tekanan fisik dan perubahan suasana lingkungan. Embrio yang sudah menempuh tahap gastrula dan tubulasi mengandung zat inductor, yang dihasilkan oleh sel-sel lapisan mesoderm. Zat ini menginduksi pertumbuhan dan difernsiasi jaringan sekitarnya, termasuk jaringan mesoderm sendiri. Jika lapisan ectoderm yang bakal jadi jaringan saraf dilepaskan dari lapisan mesoderm yang berada di bawahnya, ternyata ectoderm itu tidak berdiferensiasi jadi jaringan saraf.

  1. Faktor Intrinsik

Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam sel. Factor intrinsic berada dalam inti dan sitoplasma. Faktor dalam inti adalah kromatin. Faktor dalam sitoplasma sangat kompleks, terutama berupa enzim, kadar metabolit dan elektrolit, serta komposisi suatu organel.

Hormone menjadi factor diferensiasi ketika embrio sudah menempuh tahap organogenesis. Hormon mungkin dihasilkan oleh tubuh embrio sendiri, atau dihasilkan oleh tubuh induk, yang mengalirkannya ke tubuh embrio melalui plasenta (pada mamalia). Hormone steroid dapat merembes  masuk sel, terus ke dalam inti dan merangsang ADN untuk melakukan transkripsi atau replikasi untuk persiapan bermitosis. Hormone non-steroid merangsang zat reseptor pada plamalemma, dan secara estafet menyampaikan rangsangan kepada ADN inti untuk aktif bertranskripsi atau replikasi.

Disini pengaruh hormone jelas sekali tampak pada perubahan yang terjadi di daerah gembungan pada kromatin. Gembungan merupakan daerah gen yang aktif melakukan transkripsi, mengandung banyak ARN-m dan protein non-histon. Jika gen di daerah gembungan sedang aktif, berarti ADN-nya dalam keadaan longgar dan pilihannya terbuka (despiralisasi). Ternyata jika ke dalam sel dimasukkan hormon tertentu maka gembungan itu muncul dan besar. Terbentuknya gembungan pada daerah tertentu kromatin bergantung pada jenis hormone yang merembes masuk sel.

Pada keluarga lalat buah (Drosophila) terkenal adanya kromosom raksasa, yang panjangnya beberapa mm, di bawah mikroskop cahaya tampak jelas mengandung pita-pia vertical pada kromatin. Pita-pita tersebut merupakan daerah gen. apabila gen sedang aktif bertranskripsi maka pada suatu daerah pita-pita tersebut akan menjadi gembungan. Apabila ulat serangga diberi suntikan hormone pertumbuhan tingkat larva (juvenile hormone), maka akan tampak gembungan pada daearah tertentu kromatin.

Gambar Gembungan di daerah tertentu kromatin

Timbulnya gembungan pada beberapa tempat kromatin sel ulat lalat buah, disebabkan adanya rangsang dari hormone pertumbuhan ulat. Kiri; sebelum dirangsang; kanan: sesudah dirangsang.

Factor intrinsic beroperasi dalam tingkat transkripsi dan translasi. Dalam tingkat transkripsi diferensiasi terjadi oleh pembedaan pada jenis daerah kromatin yang sedang melakukan transkripsi. Saat interfase kromatin inti berada dalam 2 fase heterokromatin dan eukromatin. Jika dalam fase hetero, pilinana ADN rapat dan padat , dan non-aktif. Jika dalam fase eu-pilinan ADN longgar lepas, maka aktif melakukan transkripsi. Menurut pengamatan hanya sekitar 5% And kromatin dalam suatu sel yang eu pada suatu pertumbuhan. 95% lagi dalam status hetero. Walau semua sel dalam tubuh embrio mengandung bahan genetis dan susunan gen yang sama, namun dapat terjadi diferensiasi pada daerah kromatin atau ADN mana yang yang sedang bertranskripsi.

Dalam proses transkripsi diperlukan enzim ARN-polimerase, nukleosida, fosfat, ATP dan beberapa elektrolit seperti Na+, Ca+2 dan Mg+2. Difernsiasi dalam tingkat transkripsi mungkin terjadi karena pembedaan dalam salah satu atau beberapa bahan.

Diferensiasi terjadi pula pada transkripsi karena pembedaan dalam enzim proteinsae yang melepaskan protein histon dan non-histon dari belitan ADN. Supaya pilinan ADN longgar dan kedua molekul yang sepasang merenggang, maka perlu  kiranya terlebih dahulu histon dan non-histon  yang dililit serta tempatnya membenam terurai. Wilayah mana kromatin dan pada kromatin mana  yang menjadi onggar dapat nerdiferensiasi menurut perbedaan pada penguraian histon non-histon tadi. Perbedaan supali bahan yang masuk ke dalam inti terutama enzim-enzim, maka akan berbeda pula kodon pada ARN-m dan pada translasi akan berbeda pula asam amino yang diuntaikan untuk jadi peptide. Pada suatu protain, beda satu asam amino saja akan beda pula perilaku dan sifatnya. Contoh dalam sintesa hemoglobin yang mengandung protein globulin. Hb normal yang umum pada orang disebut Hb A. dalam Hb terjadi variasi orang yang memiliki Hb C, Hb S, Hb 0. Masing-masing Hb hanya mempunyai perbedaan satu asam amino dari Hb A., lihat tabel 5.1 Hb abnormal. Artinya hanya berbeda pada satu kodogen pada ADN eukromatin, dari ratusan kodogen lain yang melakukan transkripsi pada bagian eukromatin tersebut. Perbedaan pada kodogen umumnya terjadi karena mutasi. Mutasi adalah perubahan pada susunan nukleotida AND terjadi karena gangguan pada suasana lingkungan sel, intra maupun interseluler.

Gen dan ADN banyak yang rangkap dalam sel suatu organism. Artinya ganda dalam komponen nukleotida maupun dalam transkripsi dan translasi. Jadi gen A yang akan mensintesa protein A, banyak terdapat dalam suatu inti sel. Hal ini perlu jika suatu ketika sel harus memproduksi protein yang banyak dalam waktu singkat. Seperti pada sel plasma, harus menghasilkan anti bodi (imunoglobulin) yang banyak, diperlukan untuk menyerang benda asing yang masuk tubuh. Gen ganda ini berfungsi sebagai tindakan pengamanan, jika suatu ketika gen A rusak atau bermutasi dan mutant (hasil mutasi) itu berakibat sangat buruk sehingga dapat mematikan sel. Jika masih ada cadangan duplikatnya maka transkripsi akan berlangsung normal.

Pembagian kerja antara gen rangkap, sampai saat ini belum diketahui, namun dapat dibayangkan bahwa perubahan dalam komposisi bahan yang masuk ke dalam inti dapat membuat diferensiasi dalam transkripsi. Hal ini mungkin jumlah ARN-m dari berbagai gen yang berbeda, mungkin pula dalam jumlah ARN-m dari atu gen. eksperimen menemukan bahwa jika sel diberi ARN-polimerase yang diambil dari kromatin sel dewasa yang sudah berdifernsiasi, maka sel itu hanya mampu mensintesa enzim tertentu, sesuai dengan jenis enzim yang diproduksi oleh sel dari mana enzim itu diambil.

Transkripsi harus bekerja sama dan berinteraksi antara sitoplasma dan inti/kromatin. Makin dewasa umur sel makin terspesialisasi bentuk transkripsi untuk sintesa sejenis protein. Namun  potnsi kromatin tetap pluripoten. Oleh sebab itu potensi kromatin untuk diferensiasi dipengaruhi oleh umur sitoplasma sel bersangkutan.

Jika dilakukan pencangkokan inti blastomer atau inti sel epitel lapisan lender usus ke ovum yang intinya sudah diangkat atau dibunuh dengan sinar ultraviolet, maka akan tumbuh embrio normal. Hal ini menunjukkan bahwa kromatin aktif, berarti pluripoten. Namun jika yang dicangkokkan ke dalam ovum adalah inti gastromer (sel gastrula), maka terjadi berbagai macam embrio yang abnormal dan tidak dapat melanjutkan pertumbuhan (mati)

Table 2.1 Hb Abnormal

No. Nama Hb Abnormal Perubahan asam amino dari I ke
1. Hb J Toronto Alanin          à aspartat
2. Hb I Texas Lisin             à glutamate
3. Hb G Honolulu Glutamate    à glutamine
4. Hb M boston Histidin        à tirosin
5. Hb M Indonesia Glutamate    à lisin (rantai)
6. Hb S Glutamate    à valin
7. Hb C Glutamate    à lisin (rantai)

Antara gen terjadi interaksi dalam transkripsi suatu jenis protein atau suatu jenis karakter anatomi-fisiologi. Ada karakter yang ditumbuhkan oleh 1 gen, namun banyak pula karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen, namun banyak pula karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen yang bekerja sama dan berinteraksi. Tinggi tubuh, warna kulit/bulu adalah contoh karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen. jika salah satu gen tidak bekerja  atau bermutasi maka karakter yang mereka tumbuhkan akan beda dari asal, sehingga menyebabkan difernsiasi.

Hetero- atau eu-kromatinnnya bahan genetis dalam sel berdiferensiasi menurut umur embrio. Embrio orang mengandung Hb F (f= fetus, janin) dan setelah alhir digantikan oleh Hb A. berarti gen Hb berubah keaktifannya setelah embrio lahir. Alat tubuh masa embrio banyak perbedaannya dengan masa anak dan dewasa. Katak, waktu berudu bernafas dengan insang, berekor dan tidak berkaki, ampas metabolisme protein berupa NH4OH2 pemakan tumbuhan vegetarian, sedangkan saat dewasa bernafa dengan paru dan kulit, tak berekor, berkaki, ampas metabolisme (eksresi) berupa urea dan karnivora. Maka dengan melihat kenyataan, anatomi tubuhnya berbeda saat berudu dan dewasa. Artinya gen yang aktif saat embrio berbeda dengan yang aktif saat dewasa. Jadi, diferensiasi transkripsi terjadi sesuai dengan umur sel.

Dalam translasi dapat terjadi diferensiasi. Terjadinya translasi diperlukan berbagai enzim, seperti ATP, asam amino lenih kurang 20 jenis, ribosom, elektrolit, ARN-m dan ARN-t yang cukup. Variasi dalam komposisi bahan-bahan tersebut terutama pada kadar dan macam asam amino yang ada dalam sitosol, dapat menimbulkan diferensiasi.

  1. POPULASI SEL

Populasi sel terdiri dari kelompok sel yang berasal dari jaringan yang sama. Ada 3 macam populasi sel menurut kemampuan sel-selnya bermitosis, yaitu: statis, ekspansi, pembaruan.

  1. Populasi Statis

Pada populasi statis, sel-selnya tidak lagi dapat bermitosis, artinya tidak memiliki cara dediferensiasi, contohnya jaringan saraf. Diferensiasi jaringan saraf berlangsung sejak embrio awal, dan beberapa hari setelah kelahiran tidak terjadi lagi mitosis. Sampai tingkat dewasa sel saraf hanya mengalami pertumbuhan pada volume dan kualitas sel saraf lalu pertumbuhan jaringan neuroglia.

  1. Populasi Ekspansi

Pada populasi ekspansi sel-selnya terus mengalami mitosis diberbagai tempat. Mitosis untuk mencapai batas volume alat tertentu menjelang dewasa atau dalam proses penyembuhan sehingga alat yang luka atau rusak kembali kepada yang besar dan berbentuk semula. Contohnya diberbagai kelenjar, pancreas, ginjal, hati, tiroid, adrenal, liur, dan kelenjar saluran pencernaan.

  1. Populasi Pembaruan

Pada populasi pembaharuan sel-selnya melakukan mitosis terus-menerus. Perbanyakan diri itu perlu untuk menggantikan sel yang rusak atau mati yang terjadi dalam waktu singkat dan terus menerus pula. Contohnya pada sumsum tulang, kelenjar limfa, epidermis kulit, lapisan lender usu, kelenjar minyak bulu, dan testis.

Pada sumsum tulang, mengandung sel induk darah (hemositoblast), yang terus menerus bermitosis dan berdiferensiasi membentuk eritrosit,  juga leukosit suatu saat seperti sel plasma yang menghasilkan antibody. Umur eritrosit pada orang, pendek hanya sekitar 120 hari. Oleh karena itu harus dibuat yang baru. Tubuh orang dibina sekitar 60 x 1012 dan diantaranya terdapat 250 x 109 eritrosit, yang harus diperbaharui sebanyak 2x 109 tiap hari.

Epidermis memiliki lapisan sel induk yang terus menerus bermitosis, dan sel anak makin dewasa makin bergerak ke sebelah luar kulit lalu menua,akhirnya mati. Sel epidermis yang mati terkelupas pada permukaan kulit, atau berupa bulu yang gugur. Pada testis lapisan epitel germinalnya mengandung sel induk benih (spermatogonia) yang terus menerus tiap hari bermitosis, disusul dengan meiosis. Oleh sebab itu tiap hari spermatozoa yang dihasilkan akan dikeluarkan dari testis lalu disalurkan ke luar tubuh jantan atau ke dalam tubuh betina saat kawin.

Satu populasi sel mengandung:

  1. Matriks yang sama merendam semua anggota populasi
  2. Beradhesi sesama melalui membran sel
  3. Junctional complex
  4. Jembaran interseluler, pada tumbuhan: plasmodesma.
  5. Contact inhibition
  6. Khalon
  7. Matriks yang sama merendam semua anggota populasi

Matriks adalah kandungan berbentuk cairan yang merendam sel-sel suatu jaringan. Matriks mengandung bahan anorganis dan organis yang khas pada jaringan tertentu. Contohnya pada jaringan tulang, matriks mengandung garam fosfat, kapur dan osein. Pada tulang rawan matriks mengandung banyak asam sulfat dan khondrin.

  1. Beradhesi sesama melalui membran sel

Sel sepopulasi beradhesi sesama. Maka dengan adanya adhesi sel anggota populasi menjadi berlekatan rapat.

  1. Junction complex

Junction complex terdapat antara sel bersebelahan. Melalui junction dapat disampaikan sinyal, arus listrik, elektrolit, metabolit, bahanyang bersifat antitoksin dan antibody, termasuk bahan obat. Junction complex berperan juga untuk melekatkan sel sepopulasi sesamanya dengan erat dan kokoh, karena pada junction mempunyai bahan semen atau patri, sehingga dapat melekatkan sel yang bersebelahan.

  1. Jembatan interseluler pada tumbuhan (plasmodesma)

Pada tumbuhan dikenal plasmodesma, jamak plasmodesmata, merupakan tonjolan sitoplasma antara sel bersebelahan, melalui lubang halus pada dinding sel. Plasmodesmata menjembatani sel tetangga, sehingga berbagai sinyal dan penyebaran zat dapat cepat dan merata.

  1. Contact inhibition

Contact inhibition adalah zat semacam protein yang terkandung pada sebelah luar membrane sel, sehingga dengan adanya zat ini sel sepopulasi dicegah gerak pindah jika saling bersentuhan.

  1. Khalon

Khalon adalah semacam protein, terkandung pada matriks atau bagian luar membran sel. Zat ini berfungsi mencegah sel seppopulasi berdediferensiasi, sehingga tidak terjadi mitosis. Di daerah luka zat ini terbuang bersama luka, dan mengakibatkan sel sekitar luka berdediferensiasi dan bermitosis sehingga daerah luka dapat menutup kembali seperti semula.

Fungsi khalon yang lain adalah menjaga agar besar suatu alat yang seimbang dengan berhenti jika alat tersebut dengan volume tubuh. Jika alat tersebut disayat dan diangkat, khalon merangsang sel untuk berdediferensiasi,dan terjadi mitosis secara terus menerus, sampai suatu saat berhenti jika alat tersebut sudah mencapai volume normal. Jadi kadar khalon berbanding terbalik dengan daya dediferensiasi. Artinya kadar rendah, daya dediferensiasi menjadi naik.

  1. MENUA DAN KEMATIAN

Diferensiasi umumnya mengakibatkan proses sel yang akhirnya mati, umur sel terbatas merupakan sifat kehidupan. Sebagian umur sel dapat diperbaharui dengan cara bermitosis, sel induk yang terus bermitosis tidak terbatas umurnya, karena peremajaan terjadi pada sel anak. Ada sel yang abadi atau tidak mati (immortal) yaitu sel epitel germinal pada gonad. Sel kanker juga berubah dari mortal menjadi immortal, karena membelah terus. Sel somatic memiliki umur terbatas, walaupun dapat bermitosis berulang-ulang. Hal ini dibuktikan pada penanaman jaringan secara dikultur. Perhatikan gambar di bawah ini yang memperlihatkan umur sel ditentukan oleh gen penua dalam inti.

Perhatikan gambar bagan sebelah kiri, sel muda sudah 10x, sedangkan gambar bagan sebelah kanan, sel tua yang sudah membelah 30x. A dari keduajenis sel, sebagai control tanpa perlakuan, sedangkan B merupakan sel yang diberi perlakuan, yaitu pencangkokan inti. Percobaan ini membuktikan bahwa umur sel atau kemampuan sel dalam membelah terus terbatas juga ditentukan oleh bahan genetis dalam inti, serta tidak bisa dimanipulasi walaupun dicangkokkan sitoplasma muda.

Jika strain sel muda sudah mengalami mitosis 10x dikultur populasinya akan dapat bertahan hidup sampai membelah ke 40x. Tapi jika yang dikultur itu sel tua yang sudah membelah 30x populasinya hanya dapat bertahan sampai pembelahan sekitar 20x. Tampaknya dari berbagai kemampuan sel untuk membelah hanya sampai sekitar 50x. setelah itu populasinya secarapelan menyusuut, akhirnya habis. Jika sitoplasma sel muda dicangkoki  dengan inti sel tua, sel-sel hasil cangkokkan akan tetap bertahan hidup sampai pembelahan 20x saja. Sedangkan jika sel sitoplasma sel tua yang dicangkokin sel muda, sel hasil cangkokan dapat bertahan membelah sampai 40x. percobaan ini menunjukan bahwa inti sel atau kromatin lah yang mengandung batas umur sel. Ada yang berpendapat bahwa kromatin mengandung seperangkat gen penua dan kematian, yang akan bekerja menurut pemrograman. Namun belum dapat ditelusuri zat apa yang menjadi saklar yang mengaktifkan gen penua atau kematian. Berikut ini beberapa pendapat tentang sel menua. Ada dua teori yang menyebabkan sel menua yaitu: teori galat dan teori gen rangkap.

  1. 1. Teori galat (error theory)

Teori galat diperkenalkan oleh Leslie Orsel. Menurut Leslie Orsel suatu ketika dalam sel terjadi bencana sehingga bebagai aktivitas dan metabolism jadikeliru (galat). Susunan molekul protein sel bersama enzim-enzim rusak dan berdegenerasi. Bencana ini dapat timbul ketika ampas metabolism dan badan sisa dari pasca lisosom tertimbun dalam sel. Aktivitas metabolismepun menjadi terhambat, atau terjadi keracunan dan berhentinya berbagai reaksi kimia.

  1. 2. Teori gen rangkap (gene redundancy theory)

Teori gen rangkap diperkenalkan oleh Z. Medvedev. Dalam sel banyak gen yang rangkap, diantaranya ada yang rangkap beribu-ribu kali. Perkiraan gen rangkap ini diperlukan untuk berlangsungnya sintesa dan aktivitas sel. Menurut teori gen rangkap, setiap gen memiliki umur terbatas untuk melakukan transkripsi dan replikasi. Saat suatu gen menua dan tak mampu lagi aktif, maka tugasnya diambil oleh gen duplikat atau saudara kembarnya. Oleh sebab itu, semakin banyak rangkap suatu gen makin panjang umur sel untuk kegiatan tertentu, sesuai dengan pekerjaan gen tadi. Jika rangkap gen tidak ada atau hanya beberapa buah, maka umur sel yang bercirikan aktivitas gen tersebut akan pendek sekali. Contoh sel yang termasuk teori gen rangkap adalah eritrosit. Sebab eritrosit tidak berinti maka aktivitas selnya terbatas dan umumnya singkat.

Menurut teori gen rangkap panjang umur suatu spesies makhluk dapat dihubungkan dengan banyak rangkap gen-gen yang ada dalam sel tubuhnya. Makin banyak jumlah rangkap gen, maka umursel individu cukup panjang, akibatnya umur individunya cukup panjang pula.  Contohnya lalat buah Drosophila rata-rata gennya memiliki seratus sampai seratus tiga puluh rangkap, sedangkan vertebrata memiliki dua ratus lima puluh rangkap sampai enam ratus kali maka menurut teori ini umur individu vertebrata berlipat ganda lebih panjang daripada umur lalat buah.

  1. UMUR SEL UMUR MAKHLUK

Umur sel makhluk tak tebatas, karena dapat membelah menjadi individu baru asal lingkungan cocok dan bahan makanan cukup. Hewan tinggi umurnya terbatas lebih panjang dari umur sel dalam tubuhnya sendiri sel-sel tersebut diganti dengan sel-sel yang baru. Pada mamalia dan aves umurnya lebih pendek daripada makhluk lain sebab memiliki suhu tubuh yang tinggi dan harus tetap dijaga harus tinggi, yaitu lebih tingi dari suhu lingkungannya. Hal ini membutuhkan metabolisme  yang lebih besar,sehingga menbutuhkan energy yang lebih banyak karena pekerjaan yang lebih banyak demikian memperpendek umur sel. Batas umur sel tergantung pada jaringan. Sel benih selalu muda, dan membentuk umur baru. Sel saraf tidak pernah diganti, dan tidak ikut beregenerasi. Oleh sebab itu secara biasa tidak melakukan pembelahan setelah berdiferansiasi, dan umurnya terbatas sepanjang umur makhluk yang memiliki. Sel-sel lain dalam tubuh umumnya ribuan kali lebih singkat dari pada umur individu.

Pada individu dewasa harus ada perimbangan antara angka kelahiran dengan angka kematian sel-sel disetiap jaringan. Perimbangan itu harus terpelihara agar tubuh tetap bertahan hidup dan sehat. Maka harus seimbang antara jumlah sel yang mati atau dikelupaskan dengan jumlah sel baru yang menggantikannya. Beberapa hal yang membuat umur sel terbatas diantaranya adalah :

  1. 1. Makin tinggi proses metabolisme makin pendek umur sel
  2. 2. Ampas metabolism dapat mengganggu berbagai proses.
  3. 3. Makin tinggi umur sel makin banyak bagian yang aus.
  4. 4. Makin tinggi umur sel makin banyak kemungkinan menerima radiasi sinar gelombang pendek sehinnga memendekan umur sel.
  5. 5. Makin tinggi umur sel maka kemampuan kelenjar endokrin menggetarkan hormon semakin menurun.
  6. 6. Makin banyak kekeliruan yang terjadi dalam proses biokemis sel
  7. 7. Makin tinggi umur sel makin banyak timbul auto anti body dalam sel.

Banyak sel tubuh vertebrata yang umumnya berlipat ganda lebih pendek dari pada umur individunya. Pada orang, umur sel epidermis, lapisan lendir usus, sel hati, sel epitel saluran kemih hanya beberapa puluh hari, dibandingkan dengan umur individunya dapat mencapai 80-90 th. Ada beberapa sel yang sama panjang umurnya dengan umur individu orang itu, seperti sel saraf dan sel otot. Rata-rata tubuh orang terdiri dari 1013 sel, tiap hari mengalami kematian 1-2%. Hal ini dialami oleh berbagai sel epitel dan eritrosit. Oleh sebab itu diperkirakan setiap 7 th tubuh orang diperbaharui: artinya sel-senya baru semua , kecuali sel jaringan saraf dan otot. Salah satu cirri sel tua dalam tubuh orang dan mamalia lainnya adalah dengan tertimbunnya pigmen Lipofuskin dalam sitplasma. Pigmen ini berasal dari ampas metabolism, dengan susunan kimia yamg kompleks: lemak, likogen, protein  dll bahan anorganis dan organis. Pigmen ini berwarna kuning coklat dan tidak dapat dicernakan oleh lisosom. Pigmen ini banyak terdapat dalam sel yang memiliki daya diferensiasi tinggi, yaitu sel saraf dan otot atau dalam sel yang bermetabolisme tinggi seperti sel hati.

Pada sel kelenjar yang tua banyak mengandung Kristal, yang berasal juga dari ampas metabolisme atau karena menumpuk dan memadatnyya bahan sekresi yang semuanya tidak sempat disekresi lagi, mungkin karena kemampuan sitoskelet sudah menurun, atau karena suplai ATP sebagai energy untuk melakukan sekresi menyusut. Pada testis dan kelenjar prostat hewan jantan sering ditemukan kristal sebagai tanda proses menua. Berikut ini adalah beberapa jenis contoh umur berbagai jenis sel dalam tubuh orang.

  1. a. Sel epidemis 2 minggu
  2. b. Sel kornea beberapa hari
  3. c. Sel epitel usus 2 hari
  4. d. Sel epitel lambung 3 hari
  5. e. Eritrosit 120 hari
  6. f. Sel hati 18 bulan
  7. g. Sel tulang dan tulang rawan berbulan-bulan
  8. h. Sel otot dan sel syaraf seumur hidup (60-90 tahun)

Umur sel tumbuhan umumnya jauh lebih panjang daripada umur sel hewan. Umur individu tumbuhan tinggi dapat mencapai berates-ratus tahun. Jenis gymnospermae seperti Sequoaia di Amerika, ada yang mencapai 4000 tahun. Artinya umur sel nya berlipat ganda dan jauh lebih panjang dari umur sel hewan.

Manfaat kematian sel

Pada berbagai daerah dalam tubuh kematian sel banyak berperan dalam proses lain. Contoh utama kematian sel, berperan dalam kematian sel, berperan dalam metamorfosa, perupaan, pembuangan metamorfosa.

  1. 1. Metamorphosis

Metamorphosis dialami oleh berbagai avertebrata dan vertebrata. Kelompok avertebrata yang bermetamorfosis terdapat pada poripera sampai arthopoda, sedangkan vertebrata adalah pisces dan amphibi. Metamorphosis adalah bentuk transisi embrio menjadi bentuk yang tetap, hingga dewasa dan menua.

Antara bentuk transisidan bentuk yang tetap banyak perbedaan sususnan anatomi dan fisiologinya, sel terjadi metamorphosis bentuk lama dibuang diganti dengan bentuk yang baru.

Contohnya bentuk ulat serangga menjadi bentuk-bentukyang tetap dengan adanya sayap, rangka luar yang mengandung lapisan khitin tebal serta tubuh dan anggota tubuh yang beruas-ruas, maka terjadi kematian sel secara besar-besaran artinya pemusnahan suatu populasi sel, bahkan alat pada individu yang bersangkutan.

Banyak sekali perbedaan antara kecebong dengan katak dewasa. Saat selesai metamorphosis pada kecebong, maka terjadi pemusnahan sel diberbagai daerah dan alat tubuh, seperti: daerah ekor, insang, mulut, saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjarnya, dan ginjal. Semua sel yang musnah, dimakan oleh makrofag dan dicernakan dalam  lisosom masing-masing, kemudian bahan cernaan digunakan jaringan untuk membentuk alat baru.

  1. 2. Perupaan

Perupaan terjadi saat metamorphosis atau saat organogenesis pada hewan yang tidak mempunyai bentuk transisi yang jelas, seperti pada reptil, aves, mamalia. Sel-sel lapisan kulit mengalami kematian lalu diabsorpsi oleh makrofag.

Perhatikan gambar paling atas angka-angka di atas menunjukan urutan pertumbuhan anggota depan pada embrio burung. Garis-garis pada gambar merupakan daerah yang populasi ssel nya menua dan mati. Maka terbentuk anggota depan yang normal. Pada gambar bagan bawah, menunjukan bahwa kaki orang yang berjari dempet yakni kaki kiri, karena penuaan dan kematian populasi sel antara jari tidak normal. Pada selaput tipis antara lidah dan dasar mulut serat gusi dihancurkan agar lidah dapat lepas dan dapat digerakan. Uuntuk penghancuran didaerah sel-sel tersebut lebih dulu mengalami kematian. Pada kelopak dan kornea mata ada lapisan tipis yang sel-selnya banyak yang mati, lalu diabsorpsi. Terjadinya perupaan, tidak hanya dibagian tubuh, terjadi juga pada alat dalam. Pada orang dan mamalia lain terjadi kematian sel pada pembuluh darah ked an dari plasenta. Jika terjadi kematian sel-sel sebelum kelahiran maka dapat mengakibatkan kelainan atau cacat badan, seperti bisul dan buta, dempetnya 1-2 jari tangan atau kaki.

  1. 3. Pembuangan

Kematian sel bermanfaat juga dalam pembuangan atau ekskresi berbagai ampas metabolisme atau sel benda asing yang tak dapat dihancurkan oleh lisosom. Mati dan terlepasnya sel epidermis, sel epitel, saluran pecernaan, dan sel epitel berbagai saluran dalam tubuh. Hal ini erat kaitannya dengan pembuangan ampas, lapuknya ranting atau akar tumbuhan serta luruhnya daun erat kaitannya dengan proses pembuangan ampas.

  1. REGENERASI

Regenerasi adalah kemampuan makhluk dalam menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang. Kemampuan regenerasi ini ada yang tinggi ada yang rendah namun untuk hal ini tidak sesuai dengan urutan kedudukan sistematika.

Organisasi yang terkenal tinggi daya regenerasinya adalah platyhelminthes, anelida, dan echinodermata, yaitu sekian perseratus bagian potongan tubuh mereka, tidak bergantung bagian mana, mampu beregenerasi menjadi individu yang utuh. Jika regenerasi itu untuk pembiakan seperti pada platyhelminthes dan nereis atau anelida laut disebut autotomi. Cara itu berlangsung dalam keadaan istimewa. Terjadi regenerasi umumnya hanya saat-saat masa gawat. Contohnya pada bintang laut dapat dipotong-potong sampai butiran kecil dan tiap butiran ini jika dilemparkan kembali ke laut dapat tumbuh kembali menjadi bintang laut utuh. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari luar saja, namun secara normal bintang laut tidak mampu melakukan pemotongan diri.

Reinert-blacks (1968) menemukan, bahwa satu sel somatis tumbuhan dapat ditumbuhkan dalam kultur menjadi individu utuh. Hal ini menunjukan bahwa daya regenerasi pada tumbuhan besar sekali. Pada hewan tinggi regenerasi terbatas pada daerah jaringan tubuh saja, seperti pada penyembuhan luka ddan mengganti bagian yang lepas atau putus didaerah kulit atau otot. Untuk regenerasi diperlukan urat syaraf itu menghasilkan suatu zat untuk beregenerasi.

Bullough (1965) menemukan kulit normal orang mengandung khalon. Zat yang menghalangi mitosis dan meiosis pada gonad. Tahun 1972 mulai dikembangkan pemikiran Bullough ini. Dikira zat ini terdapat dalam seluruh jaringan dan daerah tubuh dan ada harapan untuk mempergunakannya sebagai metode anti fertilitas pada pihak pria.

Bullough beranggapan jika terjadi luka, khalon terbawa oleh luka dan terbuang. Karena itu tempat luka tersebut terjadi mitosis. Mungkin khalon itu membebaskan sel bertetangga untuk memiliki sifat contact inhibition dan adeisi, jadi muda (dediferensiasi) sehingga mampu bermitosis.

Bruch Bumel (1967) menemukan, pertumbuhan diatur oleh nodulus limphatikus (kelenjar limpa) yang spesifik menghasilkan mitotic control protein (protein pengontrol mitosis).

Hello world!

Januari 24, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.